Diskusi Sepakbola, Aji Santoso: Ingin Sukses Jadi Pemain Usia Muda ? Jadilah yang Berbeda

Diskusi Sepakbola, Aji Santoso:  Ingin Sukses Jadi Pemain Usia Muda ? Jadilah yang Berbeda
Para peserta Diskusi sepakbola foto bersama usai acara. (YUDI WALDI)

PEKANBARU, celotehriau. com -- Ingin sukses harus menderita. Artinya menjalani setiap proses dan berani mengorbankan masa muda. Disaat pemain diusia muda sibuk bermain, pemain yang ingin menggapai cita-cita harus berani mengorbankan masa bermain dengan anak seusianya.

Hal itu ditegaskan Pelatih PSPS Pekanbaru Aji Santoso saat melakukan diskusi sepakbola tentang bagaimana membangun ASIFA  dan mengorbitkan pemain muda di Sekretariat Asprov PSSI Riau, Kamis (24/10/2024).

Bukan saja bercerita tentang bagaimana  Aji dan rekan yang mendirikan Akademi sepakbola ASIFA di Malang.Tapi juga menjabarkan proses yang dilalui saat meretas mimpi menjadii pemain dann pelatih.

Dirinya mengaku saat dahulu semuanya terbatas baik sarana dan  prasarana bermain sepakbola.Secara sadar dirinya membuat kebiasaan setiap selesai subuh bermain skipping dan pulang sekolah joging di pematang sawah.

"Artinya dengan kemajuan ilmu sepakbola yang seperti saat ini, sudah saatnya para pemain muda berani berkorban mengejar cita-cita. Istilah bersakit-sakit dahulu bersenang kemudian, " katanya.

Untuk mencetak pemain  muda yang siap berkompetisi merupakan tugas pelatih untuk membentuk  mental dan karakter pemain.

"Pelatih harus jadi contoh yang baik bagi pemainnya. Dan sebagai pelatih harus memilih pemain karena kualitas dan bukan faktor kedekatan,"debutnya.

Bahkan dalam diskusi yang tadinya cuma satu setengah jam, tak terasa sampai dua lebih. Karena banyak hal yang menjadi pertanyaan para peserta, baik secara teknis maupun non teknis.


Senada Philep Hansen Ketua APSI Riau yang menjadi narasumber pertama juga menuturkan melatih usia dini  perlu cara tersendiri. Kualitas pemain menjadi yang terdepan. Dan setiap melakukan latihan selalu menemukan kesalahan pada saat yang tepat untuk perbaikan sehingga dari waktu ke waktu pemain bertambah paham dan mengerti bermain sepakbola yang baik dan benar.

"Namun untuk mencetak pemain muda yang berada di top level ada lima elemen penting. infrastruktur menjadi yang utama, baru kemudian kurikulum dan dibarengi SDM pelatihnya, baru berjalan pengembangan usia muda yang siap berkompetisi , " katanya.

Dalampada itu, Ketua Askot PSSI Rekanbaru, Roni Saputra mengatakan diskusi ini untuk saling bertukar pikiran dan berbagai pengalaman sesama pelatih. Sehingga para pelatih yang ikut juga bisa mendapat pandangan lainnya.

"Sebagai ajang diskusi dan bertukar pikiran. Saling tukar pengalaman, dan mengambil manfaat demi kemajuan sekolah sepakbola mencetak pemain muda menuju pemain profesional, " katanya.(***/CR3) 

 

 


"