Meski Macet, Festival Lampu Colok Bengkalis Tetap Jadi Magnet Pengunjung

Meski Macet, Festival Lampu Colok Bengkalis Tetap Jadi Magnet Pengunjung

BENGKALIS - Festival lampu colok menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Bengkalis dan sekitarnya untuk melihat berbagai bentuk miniatur rumah ibadah yang tersusun dari lampu colok.

Pergelaran budaya turun-temurun di Bengkalis ini digelar setiap 26 malam Ramadan atau disebut malam 7 likur. Tradisi ini terus dilestarikan hingga saat ini.

Pelestarian budaya lampu colok tetap terjaga berkat dukungan dari Pemerintah Kabupaten yang secara konsisten menggelar festival lampu colok setiap tahunnya.

Antusiasme warga melihat lampu colok sangat tinggi. Sejumlah ruas jalan yang menjadi titik lokasi lampu colok dipadati kendaraan. Kemacetan di ruas jalan ini tak terbendung. Rata-rata didominasi pengendara sepeda motor.

Hal itu diperparah dengan tidak adanya pihak berwenang yang mengatur lalu lintas. Kemacetan diurai sendiri oleh pemuda yang menjadi panitia di masing-masing titik lampu colok.

"Tolong jangan makan jalan arah berlawanan ya, Bang. Tertib, Bang," ucap seorang pemuda berbaju kaos hitam yang ikut berpartisipasi menjaga lalu lintas.

Kemacetan ruas jalan ini terjadi di Jalan Desa Pangkalan Batang dan Jalan Desa Pangkalan Batang Barat, Kecamatan Bengkalis. Dua desa ini setiap tahun menjadi tempat ramainya pengunjung festival lampu colok.

Meskipun demikian, hal ini tak menyurutkan semangat para penikmat lampu colok untuk melihat bahkan mengabadikan miniatur lampu colok yang menyala.

Di Desa Pangkalan Batang dan Pangkalan Batang Barat berdiri lima menara lampu colok dengan bentuk miniatur masjid. Api-api colok tersusun rapi dan menyala dengan baik.