FBI Sita 13 Situs Rekrutmen Palsu yang Diduga Dipakai Intelijen China

FBI Sita 13 Situs Rekrutmen Palsu yang Diduga Dipakai Intelijen China
Investigasi terhadap jaringan rekrutmen palsi tersebut berawal dari laporan sejumlah orang yang merasa curiga terhadap proses perekrutan. (AP Photo/Jose Louis Magana)

CR – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) membekukan sekitar 13 situs web yang diduga menjadi bagian dari operasi intelijen China untuk menargetkan pekerja Amerika yang memiliki akses terhadap informasi pemerintah yang rahasia maupun sensitif.

Departemen Kehakiman AS pada Rabu (10/6/2026) waktu setempat menyatakan sebanyak 13 situs web telah disita. Situs-situs tersebut mengaku sebagai perusahaan konsultan yang menawarkan berbagai lowongan kerja bagi pemegang izin keamanan aktif maupun mantan pemegang izin keamanan pemerintah AS.

Mengutip Asahi, Kamis (11/6/2026), menurut pihak berwenang, seluruh perusahaan yang tertera di situs tersebut ternyata adalah perusahaan fiktif dan lowongan yang ditawarkan hanyalah kedok untuk mengumpulkan informasi sensitif.

Penyitaan domain internet ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas oleh lembaga penegak hukum dan intelijen negara-negara Barat untuk mengungkap dugaan strategi pemerintah China dalam merekrut orang-orang yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi penting.

Sebelumnya pada pekan lalu, aliansi intelijen Five Eyes yang beranggotakan Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat (AS) telah menerbitkan peringatan terkait praktik ilegal tersebut. Dalam peringatan tersebut dikatakan China diduga menggunakan situs lowongan kerja untuk menargetkan personel yang memiliki akses terhadap informasi rahasia atau sensitif.

Menurut peringatan tersebut, agen intelijen militer China menyamar sebagai perwakilan perusahaan swasta atau lembaga think tank lalu menawarkan posisi pekerjaan palsu, seperti analis kebijakan luar negeri atau pertahanan, lalu mendorong kandidat untuk menyerahkan informasi rahasia yang tidak tersedia untuk publik.

Dalam dokumen pernyataan tertulis FBI yang diajukan untuk mendorong penyitaan situs-situs tersebut, disebutkan operator situs menggunakan identitas palsu atau identitas yang dicuri serta foto-foto hasil kecerdasan buatan (AI) demi menciptakan kesan kredibel.

Situs-situs itu menawarkan pekerjaan konsultasi umum yang secara khusus menyasar pegawai pemerintah AS saat ini maupun mantan pegawai pemerintah.

“Situs web ini sering ditautkan atau dirujuk dalam lowongan pekerjaan entitas tersebut di LinkedIn dan platform perekrutan lainnya,” kata FBI dalam dokumen tersebut.

Menurut Departemen Kehakiman AS, para pelamar dan pekerja yang berhasil direkrut ditawari bayaran untuk menyusun laporan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka, termasuk memberikan informasi rahasia dan sensitif. Guna menyamarkan identitas, para pelaku yang diduga memiliki keterkaitan dengan badan intelijen China menggunakan mata uang kripto dan berbagai sistem pembayaran daring.

Otoritas berwenang mengungkapkan, investigasi terhadap jaringan tersebut berawal dari laporan sejumlah orang yang merasa curiga terhadap proses perekrutan yang mereka jalani.

“Banyak informasi ini berasal dari wawancara, wawancara dengan orang-orang yang melapor ada sesuatu yang tidak beres,” kata Dan Wierzbicki, agen khusus yang memimpin divisi kontraintelijen dan siber di kantor FBI Washington.

“Mereka memberikan informasi dan berkata proses ini agak aneh dan kami dibayar melalui mata uang kripto atau sistem pembayaran online yang tidak lazim,” tambahnya.

Wierzbicki menambahkan, FBI meyakini masih terdapat situs web lain dengan pola operasi yang sama. Karena itu, FBI meminta bantuan masyarakat untuk melaporkan aktivitas perekrutan mencurigakan yang berpotensi terkait dengan operasi intelijen asing.

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington membantah tudingan tersebut. Juru bicara kedutaan menyebut tuduhan memata-matai yang dituduhkan kepada China sebagai hal yang sepenuhnya dibuat-buat dan merupakan bentuk fitnah jahat.