Pelajar Pekanbaru Didorong Jadi Agen Edukasi HIV/AIDS di Sekolah

Pelajar Pekanbaru Didorong Jadi Agen Edukasi HIV/AIDS di Sekolah

CR - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru bersama Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menggelar kegiatan bertajuk "Sinergi Pendidikan dan Kesehatan: Mewujudkan Generasi Muda Riau yang Cerdas, Sehat, dan Bebas Stigma HIV/AIDS", Jumat (12/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 pelajar SMA dan SMK se-Kota Pekanbaru yang merupakan perwakilan pengurus OSIS dari berbagai sekolah.

Sosialisasi menghadirkan Wakil Walikota Pekanbaru Markarius Anwar, narasumber dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, serta Komisi Penanggulangan AIDS Kota Pekanbaru.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pencegahan HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, serta pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dalam sambutannya, Markarius Anwar mengatakan bahwa edukasi sejak dini sangat penting mengingat para pelajar akan segera memasuki dunia pendidikan yang lebih tinggi dan menghadapi berbagai tantangan pergaulan.

"Penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya tugas sektor kesehatan semata, tetapi hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena itu diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak termasuk dunia pendidikan," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Markarius Anwar juga mengajak kawula muda untuk ikut mencegah penularan HIV/AIDS. "Kita ingatkan kawula muda agar jangan sampai terjerumus hubungan seksual di luar nikah," ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan dapat menjadi agen edukasi di lingkungan sekolah masing-masing serta turut menyebarkan informasi yang benar mengenai HIV/AIDS.

"Dengan sinergi antara dunia pendidikan dan kesehatan, diharapkan dapat terwujudnya generasi muda Riau yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, serta bebas stigma terhadap HIV/AIDS," harapnya.

Sementara itu, dokter spesialis dermatologi dan venereologi (kulit dan kelamin) dr. Puridelko Kampar, Sp.DV yang menjadi narasumber menjelaskan bahwa HIV dan AIDS merupakan dua kondisi yang berbeda.

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS adalah kondisi lanjutan ketika daya tahan tubuh telah menurun secara signifikan. Menurutnya, edukasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran HIV sejak remaja.

"Stigma terhadap penderita HIV masih menjadi tantangan. Kita harus menjauhi penyakitnya, bukan orangnya. HIV tidak menular melalui bersalaman, berpelukan, menggunakan toilet bersama, gigitan nyamuk, maupun makan bersama. Karena itu masyarakat perlu memahami fakta-fakta ini agar tidak memberikan stigma negatif kepada penderita HIV," pungkasnya.