CR - Harga minyak dunia jatuh lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (18/6/2026) waktu setempat dan menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Iran pada akhir Februari 2026.
Penurunan terjadi setelah tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik, membuka kembali Selat Hormuz, serta melonggarkan sanksi terhadap Teheran. Kesepakatan tersebut meningkatkan prospek pasokan minyak global sehingga menekan harga energi.
Minyak mentah Brent turun US$ 1,85 atau 2,33% menjadi US$ 77,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,89 atau 2,46% ke level US$ 74,90 per barel.
Harga Brent sempat menyentuh level terendah sejak 27 Februari 2026, yakni hari perdagangan terakhir sebelum serangan awal AS dan Israel terhadap Iran. Adapun WTI berada di level terendah sejak 4 Maret 2026.
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan potensi dibukanya kembali Selat Hormuz menghilangkan sebagian besar risk premium yang sebelumnya melekat pada harga minyak akibat terganggunya sekitar 20% arus pasokan minyak global.
"Sebagian pihak memperkirakan normalisasi penuh membutuhkan waktu beberapa minggu karena faktor asuransi, perbaikan infrastruktur, dan pelonggaran sanksi. Namun arah pergerakannya sudah jelas dan skenario paling pesimistis sejauh ini terbukti terlalu pesimistis," ujar Flynn dilansir dari Reuters.
Kesepakatan sementara AS dan Iran dituangkan dalam nota kesepahaman yang memuat 14 poin. Perjanjian tersebut membuka masa negosiasi selama 60 hari dan memungkinkan Iran memberikan akses bebas hambatan bagi pelayaran melalui Selat Hormuz.
Dalam kesepakatan tersebut, lalu lintas kapal di jalur strategis itu ditargetkan kembali beroperasi penuh dalam waktu 30 hari. Namun, sejumlah isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran, masih ditunda untuk pembahasan lebih lanjut.
Kesepakatan itu juga mengharuskan AS dan para mitranya menyiapkan dana sekitar US$ 300 miliar untuk mendukung pemulihan ekonomi Iran.
Sejumlah analis memperkirakan arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap. Meski demikian, para pelaku industri mengingatkan harga minyak kemungkinan tidak akan turun terlalu dalam karena permintaan energi masih kuat dan persediaan global perlu kembali diisi.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk akan kembali ke level sebelum perang pada akhir Juli 2026. Produksi minyak diperkirakan pulih sepenuhnya pada Oktober 2026.
Bank investasi tersebut memperkirakan normalisasi ekspor dapat tercapai melalui peningkatan arus minyak sekitar 13 juta barel per hari melalui Selat Hormuz hingga mencapai sekitar 70% dari tingkat sebelum konflik.
Sementara itu, BNP Paribas menilai harga minyak belum akan kembali ke level sebelum perang. Bank tersebut memperkirakan level US$ 75 per barel akan menjadi batas bawah yang relatif kuat dalam waktu dekat karena pasokan global masih menghadapi gangguan dan permintaan tetap tinggi.
Sebelum konflik Iran pecah, harga Brent bergerak di kisaran US$ 60 hingga US$ 70 per barel selama dua bulan pertama 2026.
Dari sisi lain, konsumsi minyak China diperkirakan mencapai 753 juta ton metrik pada 2026 atau turun 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi peralihan ke energi baru serta tingginya harga minyak.
Sementara itu, konflik geopolitik masih membayangi pasar energi. Drone Ukraina kembali menyerang kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam pekan ini. Kyiv menyebut serangan tersebut sebagai bukti meningkatnya kemampuan militernya.