Dugaan Kekerasan Mahasiswa Saat Demo, IMM Riau Desak Polda Segera Buka CCTV

Dugaan Kekerasan Mahasiswa Saat Demo, IMM Riau Desak Polda Segera Buka CCTV

PEKANBARU, celotehriau.com - Dugaan kekerasan terhadap mahasiswa saat melakukan aksi demontrasi di depan Gedung DPRD Riau bergulir ke ranah hukum. Bahkan pemeriksaan saksi kunci telah dilakukan oleh Polda Riau.

Dua orang kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riau, Dheo dan Rehan, hadir memenuhi panggilan penyidik dengan didampingi secara melekat oleh tim kuasa hukum dari PBH IMM Riau untuk memberikan keterangan di Polda Riau demi mengunci fakta-fakta materiil yang terjadi di lapangan.

Dalam pemeriksaan Ditreskrimum Polda Riau, Dheo dan Rehan secara gamblang membeberkan seluruh dugaan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum aparat terhadap rekan mereka Muhammad Luthfi Suhaz.

Kedua saksi menyampaikan kronologi kejadian secara utuh dan detail, mulai dari berjalannya mimbar orasi yang damai hingga terjadinya penetrasi represif sepihak yang berujung pada pemukulan brutal hingga korban terkapar di aspal.

Fakta-fakta yang disampaikan oleh kedua kader ini menjadi piar pembuktian yang sangat kuat, sekaligus mematahkan segala upaya penyelewengan narasi yang mencoba mengaburkan fakta kebrutalan oknum aparat di Gedung DPRD Provinsi Riau.

Dalam proses pemeriksaan kasus tersebut, tim penyidik Ditreskrimum Polda Riau secara tegas menyatakan komitmennya untuk segera menyita seluruh rekaman CCTV yang terpasang di kompleks Gedung DPRD Provinsi Riau.

Atas pernyataan tersebut, Ketua DPD IMM Riau, Alpin Jarkasih Husein Harahap, mendesak pihak penyidik untuk bergerak cepat tanpa menunda waktu guna melakukan pengembangan penyelidikan secara mendalam berbasiskan rekaman digital tersebut.

"Bukti CCTV tersebut merupakan alat bukti objektif yang sangat vital untuk mengidentifikasi secara terang benderang keberadaan pria berbaju hitam serta oknum pelaku lainnya, sehingga seluruh pihak yang terlibat baik secara fisik maupun struktural komando dapat segera diseret untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Alpin, Rabu (1/7/2026).

DPD IMM Riau secara kelembagaan juga mengeluarkan pernyataan keras dan mendesak jajaran kepolisian untuk keluar dari pola penanganan perkara yang normatif atau lamban. DPD IMM Riau meminta Polda Riau agar melakukan langkah-langkah penegakan hukum yang jauh lebih progresif, berani, dan transparan dalam membongkar keterlibatan oknum anggotanya sendiri.

Pihaknya juga menegaskan bahwa kredibilitas penegakan hukum di Provinsi Riau hari ini sedang dipertaruhkan di meja penyidik, sehingga pendekatan konvensional yang terkesan mengulur waktu tidak akan lagi ditoleransi oleh masyarakat sipil.

Ia menyebut, batas kesabaran gerakan mahasiswa memiliki garis akhir, dan target utama dari seluruh proses ini adalah penangkapan aktor lapangan.

"Kami mendesak agar tim khusus yang dibentuk oleh Polda Riau segera menemukan, menangkap, dan mempublikasikan identitas pelaku utama penganiayaan yang bersembunyi di balik atribut preman tersebut," katanya.

Ia juga mengingatkan, bahwa jika dalam beberapa hari ke depan proses hukum ini tidak menunjukkan progresifitas yang nyata dengan ditetapkannya tersangka, maka aliansi mahasiswa dari berbagai elemen siap mengonsolidasikan kembali gelombang massa yang jauh lebih besar untuk menjemput langsung keadilan di jalanan Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.