Mengenal Teknologi 'Snicko' yang Depak Kroasia dari Piala Dunia 2026

Mengenal Teknologi 'Snicko' yang Depak Kroasia dari Piala Dunia 2026

Celotehriau.com - Teknologi sensor bola yang dijuluki "Snicko" kembali menjadi perbincangan pada Piala Dunia 2026 setelah berperan penting dalam dua keputusan kontroversial yang diambil video assistant referee (VAR).

Teknologi tersebut menjadi penentu sah atau tidaknya gol dalam pertandingan Portugal kontra Kroasia serta duel antara Swedia melawan Tunisia.

Meski sering disebut sebagai "Snicko", teknologi yang digunakan FIFA sebenarnya berbeda dengan Snickometer pada olahraga kriket. Bola resmi Piala Dunia 2026, Trionda buatan Adidas, telah dibekali mikrocip yang mampu mendeteksi setiap sentuhan terhadap bola secara real time.

Data tersebut langsung dikirim ke ruang VAR untuk membantu wasit mengambil keputusan dengan lebih cepat dan akurat. Kasus pertama terjadi saat Portugal mengalahkan Kroasia 2-1 pada babak 32 besar, Jumat (3/7/2026) pagi WIB.

Kroasia sempat mengira berhasil menyamakan kedudukan melalui Josko Gvardiol pada menit ke-103. Namun, VAR kemudian memeriksa proses terciptanya gol bek Manchester City itu.

Sensor di dalam bola mendeteksi adanya sentuhan tipis dari Igor Matanovic sebelum bola sampai kepada Gvardiol. Karena Matanovic berada dalam posisi offside saat menyentuh bola, gol tersebut akhirnya dianulir dan Portugal memastikan tiket ke perempat final.

Keputusan wasit yang menganulir gol itu memicu protes keras dari kubu Kroasia. Pelatih Kroasia Zlatko Dalic menilai kepemimpinan wasit buruk meski enggan mengomentari keputusan tersebut secara spesifik.

 

 

"Saya tidak akan banyak berkomentar soal itu, tetapi saya harus mengatakan bahwa kepemimpinan wasit sangat buruk," kata Dalic.

Ia juga mengkritik penggunaan VAR pada kejuaraan besar seperti Piala Dunia. Dalic menyebut penggunaan VAR menghilangkan kegembiraan dan emosi pada sebuah laga sepak bola.

"Anda bisa melihat bagaimana emosi benar-benar hilang. Semua keputusan seperti itu membuat Anda kehilangan kegembiraan dalam sepak bola. VAR membunuh emosi, membunuh semua yang Anda rasakan. Menurut saya, penggunaan VAR sudah terlalu jauh," ujarnya.

Sebaliknya, pelatih Portugal Roberto Martinez mendukung keputusan tersebut. Ia menegaskan penggunaan teknologi memberi kepastian bagi wasit serta kedua tim yang bertanding.

"Sangat disayangkan salah satu tim harus tersingkir. Namun, ini bukan keputusan yang buruk ataupun keputusan yang beruntung. Keputusan itu jelas. Bola sekarang dilengkapi cip dan sensor menunjukkan bahwa bola memang disentuh," kata Martinez.

Kasus kedua efek besar penggunaan Snicko terjadi saat Swedia menang telak 5-1 atas Tunisia pada fase grup. Mattias Svanberg sempat dinyatakan offside ketika mencetak gol hanya 18 detik setelah masuk sebagai pemain pengganti.

Setelah ditinjau VAR, sensor di dalam bola menunjukkan bahwa Alexander Isak sempat menyentuh bola sangat tipis usai tendangan bebas Yasin Ayari. Sentuhan tersebut membuat posisi Svanberg berubah menjadi onside sehingga gol akhirnya disahkan.

Mantan penyerang Republik Irlandia Clinton Morrison mengaku memahami kekecewaan pemain Tunisia karena sentuhan Isak hampir tidak terlihat. Ia mengaku setuju dengan penggunaan VAR yang dapat memastikan gol Svanberg sah.

"Itu penyelesaian yang bagus dari Svanberg, tetapi saya mengerti mengapa para pemain Tunisia kecewa karena dari tayangan ulang tampaknya tidak ada sentuhan sama sekali," ujarnya.

Cara Kerja Teknologi Sensor Bola

Teknologi connected ball dari Adidas bekerja dengan cara yang berbeda dari Snickometer di olahraga kriket. Jika Snickometer di kriket menggunakan mikrofon untuk menangkap suara benturan antara bola dan pemukul, teknologi pada bola Piala Dunia memakai sensor gerak dan mikrocip yang mendeteksi kontak fisik secara langsung.

Setiap sentuhan menggunakan kaki, kepala, atau tangan direkam secara instan dan dikirim ke VAR. Pada tayangan ulang televisi, sentuhan tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik gelombang.

Ketika terjadi kontak, grafik akan menunjukkan lonjakan (spike), meski sentuhan tersebut tidak terlihat jelas oleh mata manusia. Teknologi serupa sebenarnya bukan hal baru, karena FIFA telah menggunakannya pada Piala Dunia 2022 di Qatar dan Euro 2024.

Pada gelaran Piala Dunia 2022, sensor bola membuktikan Cristiano Ronaldo tidak menyentuh umpan silang Bruno Fernandes dalam kemenangan Portugal atas Uruguay. Adanya masukan dari sensor gerak itu membuat gol akhirnya tetap dicatat atas nama Fernandes.

Sementara pada ajang Euro 2024, teknologi tersebut juga digunakan saat gol Belgia ke gawang Slovakia dianulir setelah sensor menunjukkan Lois Openda lebih dulu menyentuh bola dengan tangan sebelum Romelu Lukaku mencetak gol.

Dengan semakin canggihnya teknologi, FIFA berharap keputusan wasit menjadi lebih akurat. Namun, dua insiden di Piala Dunia 2026 juga menunjukkan penggunaan teknologi tetap memunculkan perdebatan karena dinilai menghilangkan spontanitas dan emosi dalam sepak bola, meski mampu mengurangi kesalahan manusia.