Rupiah Jebol Rp 18.000, Ruang Penguatan Semakin Sempit

Rupiah Jebol Rp 18.000, Ruang Penguatan Semakin Sempit

(Celotehriau.com) – Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke posisi Rp 18.014 per dolar AS pada perdagangan Rabu (8/7/2026), dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan eksternal.

Salah satu sentimen yang membebani rupiah berasal dari menurunnya tingkat keyakinan konsumen. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026.

Meski masih berada di atas level 100 yang mencerminkan optimisme, penurunan tersebut menunjukkan kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi mulai melemah.

Secara rinci, BI mencatat penurunan terjadi pada sejumlah komponen, termasuk persepsi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama dibandingkan bulan sebelumnya.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah pada perdagangan hari itu terutama dipicu oleh faktor domestik, salah satunya penurunan indeks keyakinan konsumen.

“Rupiah tertekan oleh survei yang menunjukkan penurunan yang cukup besar pada kepercayaan konsumen Indonesia di bulan Juni,” kata Lukman kepada Beritasatu.com.

Selain itu, menurut Lukman, rupiah juga tertekan oleh kabar mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar ekuitas Indonesia menjadi frontier market oleh S&P Dow Jones.

Meski Indonesia masih mempertahankan status emerging market, lembaga tersebut memberikan peringatan bahwa status itu dapat berubah apabila sejumlah persoalan di pasar modal domestik tidak segera dibenahi.

Sentimen tersebut turut menekan pasar saham domestik. IHSG sempat turun 62,28 poin atau 1,04% ke level 5.924,2 pada Rabu pagi (8/7/2026). Hingga pukul 15.30 WIB, IHSG berada di level 5.915,4.

Lukman menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas selama sentimen domestik belum membaik. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah juga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Risalah pertemuan FOMC malam ini juga berpotensi menguatkan dolar apabila Ketua The Fed Kevin Warsh kembali hawkish seperti pada FOMC sebelumnya,” tandasnya.