Pasokan lewat Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Dunia Turun

Pasokan lewat Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Dunia Turun

(celotehriau.com) - Harga minyak dunia melemah lebih dari US$ 1 per barel pada perdagangan Jumat (31/7/2026) waktu Asia. Namun, harga minyak masih berada pada jalur kenaikan sekitar 20% sepanjang bulan ini seiring meningkatnya pasokan yang melintasi jalur pelayaran strategis, di tengah masih memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kontrak minyak mentah Brent turun US$ 1,03 atau 1,2% menjadi US$ 88 per barel pada Jumat pagi. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 1,50 atau 1,8% menjadi US$ 82,09 per barel.

Analis ING Daniel Hynes mengatakan penurunan harga minyak dipicu meningkatnya arus pasokan energi melalui Selat Hormuz, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung.

"Harga minyak mentah bergerak lebih rendah karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah diimbangi oleh tanda-tanda bertambahnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz," ujar Hynes, dikutip dari Reuters.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang setiap hari dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia. Jalur tersebut menjadi perhatian utama pasar energi setelah sebagian besar aktivitas pelayaran terganggu sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februar 2026.

Di tengah situasi tersebut, Arab Saudi berupaya memimpin koalisi internasional untuk memperkuat kerja sama pertahanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden, yang juga menjadi jalur penting distribusi energi global.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan sebanyak 14 negara, termasuk Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki, mendukung pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional tersebut.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran pekan lalu mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah itu mengancam jalur ekspor minyak melalui Laut Merah yang selama ini menjadi alternatif selain Selat Hormuz.

Meski lalu lintas kapal tanker masih berlangsung di Selat Hormuz maupun Laut Merah, meningkatnya risiko keamanan telah mendorong lonjakan biaya pengiriman dan premi asuransi.

Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva mengatakan kondisi tersebut membuat pasar memasukkan premi risiko geopolitik yang cukup besar ke dalam harga minyak.

"Meskipun harga minyak telah turun dari level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, tren secara keseluruhan masih menunjukkan prospek yang positif," kata Sachdeva.