PEKANBARU (celotehriau.com) — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau saat ini mulai menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal di wilayah terdampak asap.
Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Riau, dr. Indra Yovi, mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan asap karhutla, terlebih ketika kualitas udara telah berada pada level yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Menurut Indra Yovi, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan. Imbauan ini terutama ditujukan kepada kelompok rentan, yakni anak-anak, remaja, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan tuberkulosis (TB).
“Dengan kondisi kualitas udara terdeteksi pada level sangat berbahaya untuk kesehatan dengan warna kewaspadaan sudah sampai di atas warna merah, yakni ungu,” ujar Indra Yovi kepada CAKAPLAH.COM, Senin (24/8/2026).
Ia meminta masyarakat tidak menganggap sepele kondisi udara yang dipenuhi asap. Paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Bagi masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan, Yovi menyarankan menggunakan masker. Masker N95 menjadi jenis yang dianjurkan, karena memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel halus di udara.
Namun, apabila N95 tidak tersedia, masyarakat tetap dianjurkan menggunakan masker biasa daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali.
Selain mengurangi paparan asap, masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi konsumsi air putih. Menurut Indra Yovi, asupan cairan yang cukup dapat membantu menjaga hidrasi saluran napas agar tidak kering.
Indra Yovi juga memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas olahraga. Dalam kondisi udara yang buruk akibat kabut asap, olahraga di luar ruangan seperti jogging, bersepeda, maupun senam sebaiknya tidak dilakukan.
Masyarakat juga diminta mengenali gejala gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat paparan asap. Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain nyeri atau gatal di tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga nyeri dada.
Tidak hanya saluran pernapasan, paparan asap juga dapat menimbulkan mata merah dan perih serta gangguan pada kulit.
Jika mulai mengalami gangguan pernapasan, Indra Yovi meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan
Asap dari kebakaran dapat menyebar mengikuti kondisi angin dan berpotensi memperburuk kualitas udara di wilayah yang berada di sekitar lokasi kebakaran maupun daerah yang terdampak pergerakan asap.
Karena itu, kata Indra Yovi, masyarakat diimbau tidak hanya memperhatikan kondisi kebakaran secara langsung, tetapi juga memantau kualitas udara di wilayah masing-masing dan menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi udara.*