Pers Riau di Persimpangan, Pemred Tribun: Adaptasi atau Ditinggal

Pers Riau di Persimpangan, Pemred Tribun: Adaptasi atau Ditinggal
Erwin Adrian saat diskusi tantangan dan masa depan pers Riau.

PEKANBARU, celotehriau.com– Pers di Riau berada di persimpangan akibat perubahan teknologi, pergeseran perilaku audiens, dan kehadiran kecerdasan buatan AI yang mengubah lanskap industri media.

Pandangan itu disampaikan Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian dalam diskusi Persatuan Wartawan Indonesia PWI Riau bertajuk "Tantangan dan Masa Depan Pers Riau", Selasa (15/9/2026).

Media kini kata Erwin, bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Masyarakat memperoleh informasi dari media sosial, kanal video, podcast, hingga konten kreator. Kondisi ini menuntut pers beradaptasi tanpa meninggalkan fungsi utama sebagai penyaji informasi akurat dan tepercaya.

Mantan Manajer Produksi Tribun Jambi ini menjelaskan, tantangan pertama adalah perubahan pola konsumsi informasi. Berita tidak lagi dibaca mendalam. Masyarakat mengonsumsi informasi secara cepat melalui telepon genggam dan media sosial. Media dituntut menyajikan informasi ringkas, cepat, dan relevan tanpa mengorbankan kualitas jurnalistik.

Tantangan kedua adalah perubahan perilaku audiens. Pembaca lebih menyukai konten visual, video pendek, audio, dan format interaktif. Perusahaan media perlu menghadirkan pengalaman baru bagi audiens melalui berbagai platform digital.

Tantangan berikutnya adalah AI yang mulai mengambil alih sebagian pekerjaan di ruang redaksi.

Meski demikian, Erwin menegaskan, AI tidak dapat menggantikan peran wartawan sepenuhnya. Proses jurnalistik tetap membutuhkan verifikasi fakta, peliputan lapangan, analisis, dan tanggung jawab etik.

Di sisi lain, penyebaran hoaks dan disinformasi menjadi ancaman serius. Semakin cepat arus informasi, semakin tinggi risiko penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Media harus memperkuat proses verifikasi dan menjaga independensi redaksi.

Erwin juga menyoroti persoalan kesejahteraan wartawan yang masih menjadi pekerjaan rumah industri media.

Menurutnya, wartawan membutuhkan perlindungan hukum, peningkatan kompetensi, pelatihan berkelanjutan, dan jaminan sosial agar dapat bekerja secara profesional.

Meski menghadapi tantangan, ia melihat peluang besar bagi pers Riau. Provinsi ini memiliki banyak isu strategis yang dapat digarap, mulai dari perkebunan, industri, lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan, budaya, hingga pemerintahan. Kekayaan isu tersebut dapat menjadi kekuatan pers daerah menghasilkan karya berkualitas.

Dalam paparannya, Erwin menekankan, masa depan pers akan bertumpu pada lima hal: transformasi digital, penguatan konten video, jurnalisme data, jurnalisme komunitas, dan jurnalisme investigasi.

Ia mengajak insan pers meningkatkan kompetensi, memperkuat verifikasi fakta, menjaga independensi, serta membangun kolaborasi antarorganisasi media dan profesi.

"Teknologi boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang benar dan tepercaya tidak akan pernah hilang," tegasnya.

Pada akhirnya, yang akan bertahan adalah media yang mampu menjaga kepercayaan publik melalui karya jurnalistik profesional, akurat, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. (***)