CELOTEHRIAU - Kepala intelijen luar negeri Rusia Sergei Naryshkin, menyatakan pada Selasa (10/12/2024), bahwa Rusia hampir mencapai tujuan strategisnya pada perang Ukraina. Pernyataan ini memperkuat klaim Moskwa bahwa mereka memegang inisiatif strategis dalam perang Ukraina yang telah berlangsung sejak invasi pada 2022.
Naryshkin, yang memimpin Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), menyebut situasi di garis depan sebagai tidak menguntungkan bagi Ukraina. "Inisiatif strategis di semua bidang adalah milik kita. Kita hampir mencapai tujuan kita, sementara angkatan bersenjata Ukraina berada di ambang kehancuran,” ujarnya dalam wawancara dengan Razvedchik, publikasi resmi badan intelijen asing Rusia.
Ia juga menambahkan bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky telah kehilangan legitimasi di mata Rusia dan dianggap tidak mampu untuk bernegosiasi.
Invasi Rusia ke Ukraina telah menimbulkan dampak besar, termasuk kematian puluhan ribu orang, pengungsian jutaan warga, serta krisis hubungan antara Moskwa dan Barat yang belum pernah terjadi sejak Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Pertempuran sengit terus terjadi di sepanjang garis depan, termasuk di kota Kurakhove dan Toretsk di timur Ukraina. Pasukan Rusia mengeklaim kemajuan signifikan, menguasai wilayah Ukraina seluas negara bagian Virginia di AS.
Di sisi lain, dukungan Barat terhadap Ukraina dianggap oleh Kremlin sebagai bukti perang proksi yang dipimpin Amerika Serikat untuk melemahkan Rusia.
Presiden terpilih AS Donald Trump menyerukan gencatan senjata dan negosiasi segera untuk mengakhiri perang Ukraina yang disebutnya kegilaan ini. Namun, proposal gencatan senjata yang memungkinkan Rusia tetap menguasai wilayah pendudukan ditolak oleh Ukraina dan sekutunya di Barat.
Zelensky sendiri menawarkan solusi diplomatik yang melibatkan pengerahan pasukan asing hingga Ukraina resmi bergabung dengan NATO. Namun, Moskwa bersikeras agar Kyiv meninggalkan ambisi untuk bergabung dengan aliansi tersebut.
Perang Ukraina bermula dari aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014 yang disebut sebagai perampasan tanah brutal oleh pihak Barat. Para pemimpin dunia memperingatkan bahwa jika target Rusia berhasil pada perang Ukraina, hal ini dapat mendorong musuh-musuh Barat lainnya untuk mengambil tindakan agresif serupa.