Rupiah Semakin Terpuruk ke Level Rp 18.100

Senin, 08 Juni 2026 | 14:04:00 WIB
ilustrasi

celotehriau.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (8/6/2026), melanjutkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot dibuka turun 79,50 poin atau 0,44% ke posisi Rp 18.115 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,02% ke level 100,091.

Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) berhasil ditutup menguat 13 poin ke level Rp 18.036 per dolar AS, meskipun sepanjang sesi sempat berada dalam tekanan.

Mengutip CNBC International, penguatan dolar AS masih berlanjut dan bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sentimen tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Laporan tenaga kerja yang solid mendorong pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang utama dunia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah hingga menyentuh level terendah sejak Juli 2024 di posisi 160,725 per dolar AS.

Sementara itu, euro turun ke posisi US$ 1,1507 per dolar AS, yang merupakan level terendah dalam dua bulan terakhir. Adapun pound sterling Inggris juga melemah ke US$ 1,33165 per dolar AS, level terendah dalam tiga pekan.

Kepala Ekonom Pasar Capital Economics Jonas Goltermann menilai laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi.

"Laporan penggajian terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap menguat di tengah berlanjutnya guncangan harga energi," ujar Goltermann.

Menurut dia, kondisi tersebut meningkatkan peluang Federal Reserve kembali memperketat kebijakan moneternya pada akhir tahun.

"Kami kini memperkirakan FOMC akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin pada akhir tahun ini sebagai respons terhadap guncangan pasokan energi dan kembali menguatnya pasar tenaga kerja AS," jelasnya.

Terkini