Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.788 Triliun pada April 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 16:33:00 WIB
Ilustrasi

CR  - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 439,8 miliar atau setara sekitar Rp 7.788 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.708 per dolar AS. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh 1,9%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,0% pada Maret 2026.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan ULN pada April terutama berasal dari sektor publik, sementara utang luar negeri swasta masih mencatatkan kontraksi.

Posisi ULN pemerintah tercatat sebesar US$ 216,4 miliar atau tumbuh 3,7% secara tahunan. Meski demikian, pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,8%.

"Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh posisi pinjaman luar negeri yang tumbuh melambat," ujar Denny dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026).

Di tengah perlambatan pertumbuhan pinjaman luar negeri, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan net inflow. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga.

Sebagai salah satu sumber pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), utang luar negeri pemerintah terus dimanfaatkan untuk mendukung sektor-sektor produktif dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan.

Berdasarkan penggunaannya, porsi terbesar ULN pemerintah dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0%. Selanjutnya, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5%, sektor pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%.

BI mencatat struktur ULN pemerintah masih sangat didominasi utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99% dari total utang luar negeri pemerintah.

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$ 193,2 miliar pada April 2026 atau mengalami kontraksi 0,7% secara tahunan. Meski masih negatif, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 1,4%.

Menurut Denny, perbaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok lembaga keuangan yang mencatatkan kontraksi lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

"Perkembangan itu terutama dipengaruhi oleh ULN kelompok lembaga keuangan yang mencatatkan kontraksi sebesar 5,0%, membaik dibandingkan kontraksi 6,3% pada bulan sebelumnya."

Dari sisi lapangan usaha, utang luar negeri swasta paling banyak berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6% dari total ULN swasta.

Seperti halnya sektor pemerintah, ULN swasta juga masih didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8%.

Secara keseluruhan, BI menilai kondisi utang luar negeri Indonesia masih berada dalam kategori sehat dan terkendali. Hal tersebut tecermin dari rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) yang stabil di level 29,6%, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,5% dari total ULN nasional.

Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," pungkas Denny.

Terkini