celotehriau.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Penguatan dolar AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) membuat mata uang Garuda menjadi salah satu yang paling tertekan di kawasan Asia.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.22 WIB, rupiah melemah 99 poin atau 0,55% ke posisi Rp 18.108 per dolar AS di pasar spot. Pada perdagangan sebelumnya, Senin (27/7/2026), rupiah juga ditutup melemah 46 poin atau 0,26% ke level Rp 18.009 per dolar AS.
Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di antara mayoritas mata uang Asia. Selain rupiah, depresiasi juga dialami dolar Taiwan yang turun 0,47%, won Korea Selatan 0,24%, baht Thailand 0,10%, dolar Singapura 0,08%, peso Filipina 0,08%, yuan China 0,03%, ringgit Malaysia 0,02%, dan yen Jepang 0,01% terhadap dolar AS.
Pada sisi lain, hanya dua mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Rupee India menguat 0,70%, sedangkan dolar Hong Kong naik tipis 0,01%.
Meansir Reuters, sentimen terhadap pasar valuta asing dipengaruhi bertahannya dolar AS di level tertinggi dalam satu bulan. Pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan yang berlangsung pekan ini, meski peluangnya dinilai tidak sebesar skenario mempertahankan suku bunga.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik tipis 0,03% ke level 101,55. Sementara itu, euro turun 0,01% menjadi US$ 1,1366, dolar AS menguat 0,05% terhadap yen Jepang ke 163,82, sedangkan pound sterling melemah 0,02% menjadi US$1,3284.
Meredanya ketegangan geopolitik setelah jeda serangan Amerika Serikat terhadap Iran memang sempat menekan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran inflasi. Namun, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS berlangsung terbatas sehingga tetap memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS.
The Fed dijadwalkan mengakhiri rapat kebijakan moneternya pada Rabu waktu AS. Sejumlah perusahaan pialang global mulai menilai terdapat risiko bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga setelah lonjakan harga minyak sepanjang bulan ini dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat The Fed sebagai penentu arah pergerakan dolar AS dan mata uang emerging markets, termasuk rupiah, dalam jangka pendek.