Kualitas Udara di Riau Memburuk, Dokter Paru Ingatkan Pemerintah Siaga Dini

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:20:00 WIB

PEKANBARU (celotehriau.com) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Kabut asap akibat kebakaran tersebut mulai berdampak terhadap kualitas udara, dan kesehatan masyarakat.

Dokter spesialis paru dan pernapasan Riau, dr. Indra Yovi, mengingatkan pemerintah agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum menyiapkan langkah perlindungan kesehatan masyarakat.

Jumlah titik panas masih didominasi wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Sementara di Riau, puluhan titik panas terpantau terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir (Inhil).

Kondisi tersebut diperparah arah angin yang bergerak dari selatan ke utara sehingga asap dari kebakaran di Sumatera Selatan dan Jambi berpotensi terbawa masuk ke wilayah Riau.

Menurut Indra, dampak asap mulai dirasakan masyarakat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Pelalawan dan Pekanbaru disebut berada pada kategori tidak sehat atau zona merah.

Kondisi tersebut, kata Indra, mulai terasa terutama pada pagi hari ketika jarak pandang menurun dan bau asap mulai tercium. "Kasus-kasus ISPA juga telah terasa peningkatannya," katanya, Sabtu (22/8/2026).

Jangan Tunggu Kondisi Memburuk

Indra meminta pemerintah tidak menunggu kualitas udara memasuki kategori berbahaya baru mengambil langkah antisipasi.

Menurut dia, Riau masih memiliki waktu untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan apabila kondisi karhutla dan asap memburuk seperti yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019.

"Kita di Provinsi Riau masih punya kesempatan untuk mempersiapkan diri untuk kejadian terburuk seperti tahun 2015 dan 2019," ujarnya.

Ia menilai pemerintah perlu memperkuat kesiapsiagaan sejak kondisi udara mulai memburuk. Langkah tersebut penting agar masyarakat terdampak tidak terlambat mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan.

"Negara harus mempersiapkan kehadirannya pada kondisi sekarang. Jangan sampai begitu ISPU sudah menunjukkan warna cokelat dan hitam, kondisi berbahaya untuk kesehatan, baru ketar-ketir memulai persiapan," tegasnya.

Indra meminta Pemerintah Provinsi Riau, pemerintah kabupaten/kota, TNI, dan Polri memperkuat sinergi dalam menghadapi potensi memburuknya kualitas udara.

Siapkan Tenda Oksigen dan Masker

Salah satu langkah yang dinilai perlu dipersiapkan adalah penyediaan rumah oksigen atau tenda oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah yang terdampak asap cukup berat.

Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan obat-obatan serta memperkuat layanan kesehatan yang dapat menjangkau langsung masyarakat terdampak.

"Kita memahami pemerintah sudah bekerja keras mencegahnya, tetapi kita harus menyampaikan ke Pemprov Riau terutama agar cepat tanggap mempersiapkan hal terburuk yang bisa terjadi seperti di Kalimantan sekarang," katanya.

Indra juga meminta edukasi kepada masyarakat segera diperkuat. Informasi mengenai langkah pencegahan dampak kesehatan akibat asap, termasuk penggunaan masker dan perlindungan diri, dinilai perlu disampaikan secara masif.

Selain layanan kesehatan dan oksigen, pemerintah diminta memastikan ketersediaan masker bagi masyarakat di wilayah yang terdampak asap.

Menurut Indra, perlindungan masyarakat harus dilakukan sejak kualitas udara mulai memburuk, bukan setelah kondisi mencapai tingkat berbahaya.

"Imbauan dan hal-hal yang berguna untuk memberikan informasi pencegahan dampak kesehatan, proteksi masker dan lainnya perlu segera dikuatkan," ujarnya.

Ia menegaskan, kondisi cuaca dan fenomena El Nino yang dinilai sangat kuat berpotensi membuat pengendalian karhutla menjadi semakin sulit. 

Karena itu, kata Indra,  kesiapan menghadapi dampak kesehatan harus berjalan beriringan dengan upaya pemerintah memadamkan dan mencegah kebakaran.

Terkini