Gas Bumi, Urat Nadi Usaha dan Dapur Keluarga Di Pelalawan

Gas Bumi, Urat Nadi Usaha dan Dapur Keluarga Di Pelalawan
Salah satu anak ibu Sutiyem saat memasak keripik pisang dengan menggunakan kompor yang dialiri gas bumi dari jargas PGN. (YW)

Dua tahun lalu, setiap malam Sutiyem diliputi ketakutan yang sama, tabung gas di dapurnya habis mendadak. Di tengah dingin malam, bayangan antrian panjang dengan KTP dan kenaikan harga yang tak terduga selalu menghantuinya. 

Bisnis UMKM yang menjadi tumpuan hidupnya sering terancam mati hanya karena pasokan energi yang tidak pasti. Kini, semua kegelisahan itu sirna, tergantikan oleh ketenangan yang mengalir 24 jam berkat Jargas PGN.

Perempuan berusia 67 tahun, menatap dapur sederhananya dengan sorot mata penuh makna. Di hadapannya, sebuah kompor terhubung ke jaringan gas bumi yang telah terpasang sejak tahun 2023.

“Kalau dulu gas habis, pusing sekali. Gas 3 kg harus antri pakai KTP, sedangkan 12 kg harganya sering berubah dan naik terus,” kenangnya saat berbincang dengan Celotehriau.com,  Rabu (17/9/2025) 

Sebelum adanya jargas dari PGN, dalam sebulan Sutiyem bisa menghabiskan dua tabung gas 12 kg dan tiga tabung gas melon per hari. Kini, semua berubah. “Alhamdulillah, dengan jargas gas bumi yang beroperasi 24 jam, kami tidak khawatir lagi kalau gas habis di malam hari,” ucapnya lega.

Lebih dari 15 tahun menggeluti usaha keluarga—mulai dari telur asin, peyek, hingga keripik pisang—Sutiyem merasakan manfaat besar. “Gas bumi benar-benar urat nadi usaha kami. Harganya murah, praktis, ramah lingkungan, dan pelayanan dari PGN juga sangat membantu,” tambahnya.

Pengalaman serupa dirasakan Yusrizal, warga Jalan Pepaya, Gang Belimbing, Pangkalan Kerinci Kota. Ia masih ingat kerepotan masa lalu. “Kalau gas habis, orang rumah menelpon, saya harus pulang dari lapangan, antri beli tabung, bawa kartu keluarga. Repot sekali,” ujarnya.

Karena itu, begitu ada sosialisasi proyek jargas PGN dari ketua RT, ia langsung mendaftarkan diri. “Sederhana, ramah lingkungan, layanan 24 jam, dan saya tidak perlu antri lagi. Pernah memang ada kendala kebocoran hingga tagihan membengkak, tapi setelah dilaporkan ke petugas, segera ditangani dengan baik,” katanya.

Ia pun mengajak warga lain segera beralih. “Pendaftaran bisa online atau offline. Gas bumi ini simpel, hemat, dan sekarang sudah jadi urat nadi dapur rumah tangga kami.”

Berbeda dengan Sutiyem dan Yusrizal, Ali Basyah, pemilik usaha mie Aceh yang menetap di Pangkalan Kerinci sejak 1998, memilih menggunakan kombinasi jargas dan gas melon. “Untuk dapur rumah dan kedai, kami pakai jargas. Tapi di depan, tetap pakai gas 3 kg agar lebih cepat menyajikan masakan. Sebulan rata-rata habis lima tabung gas melon, sementara tagihan jargas sekitar Rp100-175 ribu,” jelasnya.

Karyawan PGN saat menjelaskan fungsi meter di regulator station. (Gas Bumi, Urat Nadi Usaha dan Dapur Keluarga Di Pelalawan

 

Area Head PGN Pekanbaru, Charlie Simanullang, menegaskan komitmen perusahaan menghadirkan energi bersih dan efisien. “PGN terus menyediakan layanan jaringan gas rumah tangga yang aktif 24 jam. Di Kabupaten Pelalawan saja, sudah ada lebih dari 3.500 sambungan rumah tangga dan UMKM yang menikmati pasokan gas bumi,” ungkapnya.

Pelanggan pun dimudahkan dengan layanan digital. “Mereka bisa memantau pemakaian secara real time, mencatat meter mandiri, dan mengetahui tagihan bulanan lewat aplikasi PGN Mobile. Pembayaran juga mudah melalui aplikasi digital,” tambah Charlie.

Celotehriau. com juga berkesempatan melihat langsung Meter Regulating Station (MRS), fasilitas penting yang memastikan gas bumi aman hingga sampai ke pelanggan. “Gas dari jaringan transmisi masuk dengan tekanan tinggi, lalu diturunkan hingga aman sesuai kebutuhan rumah tangga maupun usaha,” jelas Bunayya, staf lapangan PGN.

MRS dilengkapi filter penyaring kotoran, regulator tekanan, hingga katup pengaman. Data dari meter gas kemudian menjadi dasar penagihan yang akurat. “Rutin setiap bulan kami lakukan inspeksi, kalibrasi, dan pemeliharaan untuk menjaga keandalan sistem,” ujarnya.

Gas bumi kini bukan hanya soal energi, tetapi juga solusi nyata untuk kehidupan sehari-hari. Bagi Sutiyem, Yusrizal, dan ribuan warga Pelalawan lainnya, jargas PGN adalah denyut kehidupan—urat nadi usaha, dapur rumah tangga, dan masa depan yang lebih ramah lingkungan. ***

Berita Lainnya

Index