JAKARTA – Media sosial kerap digunakan untuk menyuarakan pemikiran seseorang. Namun, terkadang postingan yang dibuat tersebut bertentangan dengan aturan dan malah merugikan.
Seperti yang terjadi pada mantan taipan perbankan Rusia, Oleg Tinkov. Gara-gara satu unggahan di Instagramq membuatnya kehilangan hampir US$ 9 miliar (sekitar Rp 150,3 triliun) setelah dipaksa menjual saham bank miliknya jauh di bawah nilai pasar.
Tinkov menyebut peristiwa tersebut terjadi setelah dia memposting mengecam perang Rusia-Ukraina. Menurutnya dia pun menjadi "sandera”, yang mencerminkan bagaimana para miliarder pembangkang ditekan di Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin.
Pendiri Tinkoff Bank itu sebelumnya dikenal sebagai salah satu bankir terkaya di Rusia. Namun, situasi berubah drastis pada April 2022 ketika ia mengunggah pernyataan di Instagram yang menyebut perang Ukraina sebagai tindakan “gila” serta mengkritik militer Rusia yang dinilainya tidak siap dan sarat korupsi.
Dalam unggahan tersebut, Tinkov juga mengeklaim sekitar 90% warga Rusia menentang perang, sementara sisanya disebutnya sebagai “orang bodoh”, serta menyerukan penghentian perang secara segera dengan cara yang “menjaga muka”.
Dalam wawancara terbaru dengan BBC, Tinkov mengatakan hanya sehari setelah unggahan itu, para eksekutif senior di banknya menerima panggilan dari pejabat yang berafiliasi dengan Kremlin.
Ultimatum pun disampaikan: saham Tinkov harus dijual dan namanya dihapus dari merek bank, atau Tinkoff Bank akan dinasionalisasi.
Tinkov mengaku tidak memiliki ruang negosiasi dalam proses tersebut. Ia dipaksa menerima harga berapa pun yang ditawarkan untuk sekitar 35% sahamnya di TCS Group, induk Tinkoff Bank.
“Saya seperti sandera. Saya tidak bisa menawar harga,” ujar Tinkov kepada The New York Times.
Tak lama setelah itu, perusahaan yang dikaitkan dengan taipan logam Vladimir Potanin membeli saham tersebut. Menurut Tinkov, transaksi itu hanya menghargai kepemilikannya sekitar 3% dari nilai pasar sebenarnya, sehingga menghapus hampir US$ 9 miliar (sekitar Rp 150 triliun) kekayaannya yang dibangun selama puluhan tahun.
Setelah penjualan tersebut, Tinkov pun meninggalkan Rusia, kemudian melepaskan kewarganegaraan Rusia, dan menjadi salah satu pebisnis papan atas yang secara terbuka memutuskan hubungan dengan Kremlin terkait perang Ukraina.
Ia juga menuding adanya upaya sistematis untuk menghapus perannya dalam membangun bank yang dulu menyandang namanya, termasuk tekanan agar merek Tinkoff tidak lagi dikaitkan dengannya.
Kasus Tinkov disebut mencerminkan pola yang lebih luas, di mana elite kaya Rusia dijaga kepatuhannya melalui kombinasi tekanan politik, sanksi, dan ancaman penyitaan aset. Di sisi lain, perang dan keluarnya perusahaan Barat membuka peluang akuisisi murah bagi kelompok yang dianggap loyal.
Kini, setelah beberapa tahun menjauh dari sorotan, Tinkov kembali muncul pada 2025 sebagai investor di Plata, perusahaan fintech asal Meksiko yang dipimpin oleh mantan eksekutif Tinkoff Bank.
