PEKANBARU, celotehriau.com - Kinerja ekspor Provinsi Riau menunjukkan tren positif pada empat bulan pertama tahun 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat nilai ekspor Riau periode Januari-April 2026 mencapai US$7,03 miliar atau meningkat 8,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
"Nilai ekspor Riau selama Januari hingga April 2026 mencapai US$7,03 miliar atau naik 8,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$6,75 miliar atau tumbuh 12,36 persen," ujar Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi.
Ia menjelaskan, pada April 2026 saja nilai ekspor Riau mencapai US$1,76 miliar atau naik 33,96 persen dibandingkan April 2025.
Untuk ekspor nonmigas pada April 2026 tercatat sebesar US$1,67 miliar atau meningkat 38,58 persen dibandingkan April tahun lalu. Sementara itu, ekspor migas mencapai US$90,63 juta atau mengalami penurunan 16,98 persen dibandingkan April 2025.
Dari sisi komoditas, Asep mengungkapkan kelompok lemak dan minyak hewan/nabati menjadi penyumbang kenaikan terbesar selama Januari-April 2026.
"Dari sepuluh komoditas ekspor nonmigas terbesar, komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati mengalami peningkatan terbesar, yakni sebesar US$662,38 juta atau naik 20,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," jelasnya.
Sebaliknya, komoditas bubur kayu (pulp) mengalami penurunan terbesar dengan nilai mencapai US$106,27 juta atau turun 16,90 persen.
Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$1.233,65 juta. Posisi berikutnya ditempati India sebesar US$639,85 juta dan Malaysia sebesar US$526,72 juta.
"Kontribusi ekspor ke tiga negara tersebut mencapai 35,54 persen dari total ekspor nonmigas Riau selama Januari-April 2026," kata Asep.
Selain itu, nilai ekspor nonmigas Riau ke kawasan ASEAN tercatat sebesar US$1,23 miliar, sedangkan ke negara-negara Uni Eropa mencapai US$726,06 juta.
Ditinjau menurut sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor daerah. Selama Januari-April 2026, ekspor hasil industri pengolahan meningkat 12,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Sementara itu, ekspor hasil pertanian mengalami penurunan sebesar 10,40 persen," pungkasnya.
