UAS Ungkap Ada 16 Poin Kesepakatan dengan Abdul Wahid Sebelum Pilgub Riau

UAS Ungkap Ada 16 Poin Kesepakatan dengan Abdul Wahid Sebelum Pilgub Riau

CR - Ustaz Abdul Somad (UAS) mengungkap adanya kesepakatan khusus yang ditandatangani Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid sebelum maju dalam Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) periode 2025-2030.

Fakta itu terungkap saat UAS memberikan keterangan sebagai saksi meringankan (a de charge) dalam sidang dugaan pemerasan anggaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Dinas PUPR-PKPP Riau di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).

Dalam keterangannya, UAS mengaku bersedia menjadi juru kampanye Abdul Wahid dengan syarat adanya komitmen terhadap sejumlah program keagamaan dan sosial yang dituangkan dalam 17 poin.

"Namun 17 poin itu, kemudian dirumuskan menjadi 16 poin kesepakatan," kata UAS.

Menurut UAS, poin-poin tersebut mencakup pembangunan Islamic Center Riau, pengembangan kawasan eks MTQ di Jalan Sudirman, pemberian insentif bagi penyelenggara jenazah dan guru mengaji, hingga pengadaan rumah mahasiswa Riau di Kairo.

"Semuanya tidak ada terkait pribadi, tapi kebaikan untuk dakwah Islam di Riau," ujar UAS di hadapan majelis hakim yang dipimpin Delta Tamtama.

UAS menyebut sebagian program tersebut mulai dijalankan setelah Abdul Wahid menjabat gubernur. Namun, pelaksanaannya terhenti setelah Abdul Wahid tersandung perkara hukum yang kini bergulir di pengadilan.

Ia bahkan menyebut tim teknis telah dua kali mempresentasikan rencana pembangunan Islamic Center, sementara pencarian rumah mahasiswa Riau di Kairo juga telah dilakukan.

UAS menilai Abdul Wahid memiliki komitmen terhadap upaya pencegahan korupsi selama menjabat Gubernur Riau. Ia mengaku pernah diperlihatkan tangkapan layar percakapan yang dikirim Abdul Wahid ke sejumlah grup internal pemerintahan.

Isi pesan tersebut, kata dia, berisi peringatan agar tidak terjadi praktik pungutan liar maupun korupsi.

"Beliau tunjukkan screenshot ke saya tentang WA ke grup-grup supaya jangan ada pungli, jangan ada tindakan korupsi," ujar UAS.

Selain itu, ia juga mengaku mengetahui adanya tindakan pencopotan terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pengumpulan uang.

Menurut UAS, selama Abdul Wahid menjabat gubernur, dirinya juga membuka ruang pengaduan masyarakat melalui pengajian rutin yang digelar setiap Rabu subuh.

Namun, ia mengaku tidak pernah menerima laporan masyarakat terkait dugaan korupsi yang melibatkan Abdul Wahid.

"Saya mencari orang yang jujur, amanah, yang bisa duduk memimpin. Itulah mengapa saya memilih sahabat saya, Abdul Wahid," katanya.

Dalam kesaksiannya, UAS juga mengungkap keterlibatannya dalam proses pencarian calon wakil gubernur yang akan mendampingi Abdul Wahid pada Pilgub Riau.

Usulkan Tiga Calon Wakil

UAS mengaku mengusulkan, sebelum pencalonan sebagai gubernur, dirinya mengajukan tiga nama calon wakil kepada Abdul Wahid, yakni dr. Mawardi Muhammad Saleh, Bupati Pelalawan saat itu, Zukri, serta mantan Bupati Pelalawan, Harris.

Menurut dia, ketiga nama tersebut dipilih karena memiliki latar belakang pesantren dan dianggap mampu memperkuat pemerintahan apabila Abdul Wahid terpilih.

"Saya menawarkan tiga wakil dari saya," kata UAS.

Namun, usulan tersebut tidak terwujud. Mawardi disebut tidak bersedia, sementara Zukri memilih melanjutkan karier politiknya di Pelalawan. Pada akhirnya Abdul Wahid memilih SF Hariyanto sebagai pasangan calon wakil gubernur.

Meski awalnya merasa berat, UAS mengaku tetap memberikan dukungan penuh dan bahkan mengawal langsung pendaftaran pasangan tersebut ke KPU.

"Saya sendiri yang menyetir mobil Jeep ke KPU," ujarnya.

Berita Lainnya

Index