Amien Rais Disebut 'Sengkuni', Pemuda Muhammadiyah Riau Meradang

Rabu, 13 Mei 2020 - 16:04:24 WIB Cetak

Zulkiswanto

PEKANBARU - Pimpinan Wilayah (PW)Pemuda Muhammadiyah Riau, merespon keras pernyataan Wakil Bendahara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Rizki Al Jufri melalui rilis tertulisnya di beberapa media massa. Rizki Al Jufri menyebut kelompok Amien Rais yang berencana mendirikan partai baru sebagai kelompok berkarakter 'Sengkuni'.

Atas komentar tersebut, jelas dianggap melecehkan bukan saja kepada sosok personal Amien Rais. Namun juga warga Muhammadiyah termasuk warga Muhammadiyah di Provinsi Riau. 

"Atas pernyataan Rizki Al Jufri yang menyebut pak Amien Rais sebagai Sengkuni tentu kami tidak senang dan melukai hati kami. Bagi kami, pak Amien Rais adalah sesepuh yang dihormati," kata Wakil Ketua PW Muhammadiyah Riau Zulkiswanto.

Lebih lanjut Zulkiswanto menilai bahwa Rizki sebagai orang yang lupa sejarah pendirian partai. Sebagaimana diketahui bahwa Amien Rais adalah salah seorang pendiri Partai Amanat Nasional. Saat pendiriannya partai ini banyak didukung oleh elit Muhammadiyah selain Amien Rais, meskipun secara organisasi Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan partai politik manapun.

"Saya minta Rizki Al Jufri tidak lupa sejarah, tidak lupa peran organisasi kemasyarakatan bernama Muhammadiyah. Ada sosok kharismatik bernama Amien Rais yang juga simbol dan sesepuh organiasi Muhammadiyah dalam pendirian partai tempatnya bernaung. Jasmerah!!!," sebut Zulkiswanto berapi-api.

Atas pernyataan yang disampaikan Rizki Al Jufri itu Zulkiswanto mendesak agar Rizki Al Jufri meminta maaf secara langsung kepada Amien Rais dan juga meminta maaf kepada warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia

"Rizki Al Jufri harus meminta maaf secara langsung pada pak Amien serta meminta maaf secara terbuka kepada warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia melalui media massa sebagaimana Rizki mengirim rilis tertulis ke beberapa media massa," imbuh Zulkiswanto.

Terakhir Zulkiswanto berharap Rizki dan elit PAN agar bijaksana dan berhati-hati menyampaikan pernyataan dan menyikapi  dinamika politik yang terus berkembang. 

"Keluar atau masuknya kader di partai politik adalah hal yang biasa karenanya jangan bawa perasaan atau baper," pungkasnya. 



Tulis Komentar +
Berita Terkait+