Ini Deretan Negara yang Tidak Merayakan Tahun Baru pada 1 Januari 2026

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:30:00 WIB

CELOTEHRIAU - Bagi banyak negara, Tahun Baru tidak selalu dimaknai sebagai pergantian kalender pada 1 Januari.

Penentuan awal tahun kerap dipengaruhi oleh sistem penanggalan tradisional, kepercayaan agama, hingga siklus alam yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Perbedaan tersebut membuat sejumlah negara tidak merayakan atau tidak mengutamakan 1 Januari sebagai Tahun Baru. Alih-alih mengikuti kalender Gregorian, mereka memiliki waktu dan tradisi tersendiri dalam menyambut pergantian tahun.

Dilansir Beritasatu.com dari laporan Go2Tutors, Jumat (2/1/2026), berikut deretan negara yang menjalankan perayaan Tahun Baru pada tanggal yang berbeda.

China

Di China, antusiasme terbesar masyarakat bukan tertuju pada 1 Januari, melainkan pada Tahun Baru Imlek yang juga dikenal sebagai festival Musim Semi.

Meski sebagian generasi muda di kota besar mulai merayakan pergantian tahun Masehi secara sederhana, perayaan Imlek tetap menjadi momen paling dinanti.

Tahun Baru Imlek jatuh pada bulan baru pertama antara akhir Januari hingga Februari. Perayaan ini memicu arus mudik terbesar di dunia, ketika ratusan juta orang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga.

Selama 15 hari penuh, masyarakat merayakannya dengan dekorasi merah, petasan, jamuan keluarga, pemberian amplop merah berisi uang, tarian singa, serta pertunjukan kembang api. Rangkaian acara tersebut ditutup dengan festival Lentera.

Vietnam

Tradisi serupa juga berlaku di Vietnam melalui perayaan Hari Raya T?t. T?t merupakan hari besar terpenting yang waktunya bertepatan dengan Tahun Baru Imlek. Persiapannya dilakukan jauh hari, bahkan bisa berlangsung selama berminggu-minggu.

Menjelang T?t, warga Vietnam membersihkan rumah secara menyeluruh sebagai simbol membuang kesialan.

Mereka juga membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas seperti bánh ch?ng, serta menghias rumah dengan bunga persik dan pohon kumquat.

Ritual penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting, disertai tradisi berbagi amplop merah kepada anak-anak sebagai doa keberuntungan.

Etiopia

Etiopia memiliki sistem penanggalan sendiri yang berbeda dari kalender Gregorian. Kalender Etiopia, yang berakar dari kalender Koptik, memiliki selisih sekitar tujuh hingga delapan tahun lebih lambat.

Karena itu, tahun baru di Etiopia yang disebut Enkutatash jatuh pada 11 September atau 12 September saat tahun kabisat.

Enkutatash menandai berakhirnya musim hujan sekaligus dimulainya musim semi. Perayaannya diisi dengan kebaktian gereja, musik tradisional, dan pesta makan bersama.

Anak-anak biasanya berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi dan menawarkan lukisan kecil untuk mendapatkan hadiah, menciptakan suasana hangat penuh kebersamaan.

Iran

Di Iran, tahun baru dirayakan melalui tradisi kuno bernama Nowruz yang telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun. Perayaan ini bertepatan dengan ekuinoks musim semi, saat terjadi pergantian musim secara astronomis.

Nowruz berakar dari tradisi Zoroastrianisme dan dirayakan dengan berbagai ritual simbolis. Salah satunya adalah penyusunan meja Haft-sin yang berisi tujuh benda bermakna, semuanya diawali huruf “S” dalam bahasa Persia.

Selain itu, masyarakat melakukan bersih-bersih rumah sebagai lambang awal yang baru. Perayaan berlangsung selama 13 hari dan ditutup dengan tradisi piknik di alam terbuka yang dikenal sebagai Sizdah Bedar. Nowruz juga dirayakan di sejumlah wilayah Asia Tengah dan Timur Tengah.

Arab Saudi

Arab Saudi menetapkan kalender Hijriah sebagai acuan resmi negara. Dengan demikian, tahun baru jatuh pada 1 Muharam.

Bagi kelompok masyarakat yang berpegang kuat pada ajaran Islam, perayaan tahun baru Masehi dianggap tidak sejalan dengan tuntunan agama.

Akibatnya, tanggal 1 Januari di Arab Saudi umumnya berlangsung seperti hari biasa tanpa perayaan publik yang mencolok. Fokus masyarakat lebih tertuju pada momen-momen penting dalam kalender Islam.

Brunei Darussalam

Brunei Darussalam juga menerapkan kebijakan ketat terkait perayaan hari besar non-Islam di ruang publik. Sejak 2014, pemerintah melarang perayaan Natal dan tahun baru Masehi secara terbuka.

Kebijakan ini diberlakukan untuk menjaga akidah umat Islam. Masyarakat dilarang memasang dekorasi, mengenakan atribut perayaan, atau mengadakan pertemuan publik untuk menyambut pergantian tahun Masehi karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama.

India

India dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya dan agama yang sangat luas. Kondisi ini membuat perayaan tahun baru tidak seragam dan berbeda-beda di setiap wilayah.

Beberapa di antaranya adalah Ugadi yang dirayakan di Andhra Pradesh, Telangana, dan Karnataka pada Maret atau April, Vaisakhi yang diperingati umat Sikh dan masyarakat Punjab pada April, serta Chaitra Navaratri yang menandai hari pertama bulan Chaitra dalam kalender Hindu.

Seluruh perayaan tersebut disesuaikan dengan kalender lunisolar tradisional atau siklus pertanian setempat.

Sri Lanka

Di Sri Lanka, Tahun Baru Sinhala dan Tamil dirayakan berdasarkan pergerakan matahari dari rasi Pisces ke Aries. Momen ini menandai berakhirnya musim panen dan awal fase baru dalam kehidupan masyarakat.

Perayaannya diisi dengan berbagai ritual budaya, permainan tradisional, serta pembuatan hidangan manis khas. Setiap prosesi melambangkan harapan akan kemakmuran, keberuntungan, dan pembaruan.

Thailand

Thailand merayakan tahun baru melalui festival Songkran yang mengikuti kalender surya tradisional. Festival nasional ini dikenal luas berkat tradisi saling menyiram air yang melambangkan pembersihan dan pembaruan diri.

Selain pesta air, masyarakat Thailand mengunjungi kuil, membersihkan patung Buddha, serta berkumpul bersama keluarga. Songkran menjadi momen penting untuk berbuat kebajikan dan mempererat hubungan sosial.

Perbedaan waktu perayaan tahun baru menunjukkan betapa beragamnya cara masyarakat dunia memaknai awal yang baru. Tradisi, kepercayaan, serta sistem kalender lokal membentuk identitas budaya yang unik di setiap negara.

Terkini