CR – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hampir saja menggagalkan kesepakatan perdamaian yang baru saja dicapai antara AS dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat diwawancara dengan The New York Times pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat, tak lama setelah diumumkannya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran, mengutip dari The Jerussalem Post, Senin (15/6/2026).
Dalam wawancara tersebut, Trump menggambarkan Netanyahu sebagai orang yang sulit diajak bekerja sama dalam proses menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026) tersebut.
Orang nomor satu di AS itu menegaskan, seharusnya Netanyahu sangat berterima kasih kepada AS karena telah menegosiasikan kesepakatan damai tersebut.
"Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam,” kata Trump.
Kesepakatan antara AS dan Iran diumumkan pada Minggu (14/6/2026) malam waktu AS, dan dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, penandatanganan nota kesepahaman akan menjadi awal dari proses negosiasi lanjutan selama 60 hari. Pembahasan tersebut akan mencakup isu terkait program nuklir Iran serta sejumlah isu strategis lainnya yang masih menjadi perhatian antarkedua negara.
Trump mengatakan, jika tidak ada kesepakatan nuklir final yang tercapai dengan Teheran, Washington tetap membuka kemungkinan akan memulai kembali serangan militer terhadap Iran.
Sebelumnya, pada awal Juni, Trump dikabarkan menyemprot Netanyahu melalui percakapan telepon yang berlangsung pada Senin (1/6/2026) waktu setempat. Sejumlah sumber yang dikutip kantor berita Axios menyebutkan Trump bahkan menyebut Netanyahu "gila" dan melontarkan umpatan saat menyampaikan ketidakpuasannya untuk mengekspresikan kemarahannya, saat membahas eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.