Trump Ancam Serang Iran Lagi, Negosiasi di Swiss Batal

Trump Ancam Serang Iran Lagi, Negosiasi di Swiss Batal

CR - Upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah kembali menghadapi ujian. Pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss memanas seusai Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman baru terhadap Iran.

Pernyataan Trump itu bahkan sempat mengganggu jalannya negosiasi yang bertujuan mencari jalan keluar atas konflik regional dan sengketa program nuklir Iran.

Perundingan yang melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance serta mediator dari Pakistan dan Qatar itu sejatinya difokuskan pada sejumlah isu strategis, mulai dari program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, hingga pencairan aset Iran bernilai miliaran dolar yang selama ini dibekukan.

Namun, di tengah proses negosiasi, Trump mengeluarkan pernyataan keras yang memicu reaksi tajam dari Teheran.

"Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon untuk membuat masalah. Apabila tidak, kami akan menyerang Iran jauh lebih keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras," kata Trump, dikutip dari AP, Senin (22/6/2026).

Ancaman tersebut langsung dibalas oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang juga menjadi kepala delegasi negosiasi, .

"Mereka sebaiknya berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. Angkatan bersenjata kami siap merespons dengan cara yang berbeda," tulis Qalibaf melalui akun X.

Media Pemerintah Iran menyebut perundingan sempat memasuki fase sulit seusai pernyataan Trump muncul. Delegasi Iran bahkan dilaporkan meninggalkan lokasi pembicaraan untuk berkonsultasi dengan mediator Qatar sebelum kembali melanjutkan komunikasi diplomatik.

Meski demikian, seorang pejabat yang mengetahui jalannya negosiasi mengatakan Iran masih berkomitmen mengikuti proses perundingan dan belum menunjukkan niat untuk mundur dari meja diplomasi.

Iran Prioritaskan Konflik di Lebanon

Sebelum membahas isu nuklir dan sanksi ekonomi, Iran ingin fokus pada situasi di Lebanon. Iran menilai konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah harus menjadi perhatian utama karena kesepakatan damai yang dicapai seharusnya mencakup seluruh kawasan Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan, pembahasan mengenai Lebanon menjadi prioritas utama delegasi Iran dalam pertemuan tersebut.

Pada sisi lain, gencatan senjata yang dimediasi pada Sabtu (20/6/2026) dilaporkan masih bertahan. Militer Israel juga mengumumkan akan melonggarkan pembatasan aktivitas warga di wilayah perbatasan Lebanon mulai Senin.

Meski begitu, situasi masih jauh dari stabil. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan hingga ancaman terhadap Israel benar-benar berakhir. Sementara Hizbullah menolak menghentikan serangan tanpa adanya komitmen penarikan pasukan Israel.

Nuklir Iran Masih Jadi Batu Sandungan

Negosiasi AS-Iran saat ini memiliki arti penting bagi keamanan global dan pasar energi dunia. AS ingin memastikan program nuklir Iran tetap berada di bawah pengawasan internasional dan tidak berkembang menjadi program persenjataan.

Namun, Iran kembali menegaskan tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium.

"Kami tidak akan pernah mundur dari hak untuk memperkaya uranium dan pihak lain pada akhirnya harus menerima hal itu," kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Dalam kesepakatan sementara yang sedang dibahas, Iran akan mendapat akses lebih luas untuk menjual minyak dan memanfaatkan aset negara yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.

Sebagai imbalannya, Iran diminta mengurangi cadangan uranium yang diperkaya tingkat tinggi dan tetap membuka ruang bagi pengawasan terhadap program nuklirnya.

Trump kemudian kembali memperingatkan AS dalam wawancara dengan Fox News. Ia bahkan mengancam akan mengambil langkah yang lebih keras apabila Iran tidak menunjukkan sikap yang sesuai dengan keinginan AS.

Selain isu nuklir, pembahasan mengenai Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan minyak dunia.

Dalam rancangan kesepakatan, kapal-kapal komersial akan diizinkan melintas tanpa biaya selama 60 hari. Namun, seusai periode itu berakhir, Iran masih memiliki opsi untuk memberlakukan kebijakan baru.

Trump juga mengancam akan mengenakan pungutan terhadap negara-negara pengguna jalur tersebut apabila kesepakatan permanen gagal dicapai dalam 60 hari ke depan.

Perkembangan negosiasi ini terus dipantau pelaku pasar global. Seusai kesepakatan sementara diumumkan, harga minyak dunia langsung turun hampir 8%, menandakan meningkatnya optimisme bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat diredam melalui jalur diplomasi.

Meski demikian, perbedaan pandangan soal program nuklir Iran dan konflik di Lebanon menunjukkan jalan menuju kesepakatan final masih panjang dan penuh tantangan.

Berita Lainnya

Index