PEKANBARU (celotehriau.com) - Kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) marak terjadi akhir-akhir ini. Di Provinsi Riau, ada beberapa kasus keracunan setelah mengonsumsi MBG.
Kasus di Kota Dumai terjadi pada tanggal 13 Agustus 2026. Murid SDN 013 dan SDN 015 Buluh Kasap, Kota Dumai menjadi korban setelah mengonsumsi MBG. Sedikitnya 45 orang yang terdiri dari 43 siswa SDN 013, 2 siswa SDN 015, dan dilaporkan ada 1 orang guru yang turut terdampak.
Para siswa mengalami mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, hingga demam sekitar 1-2 jam setelah mengonsumsi menu MBG (nasi putih, bakso orek, tempe goreng, tumis labu siam dan wortel, serta buah jeruk).
?Korban dievakuasi ke RSUD dr Suhatman Kota Dumai untuk mendapat perawatan medis. Buntut dari insiden ini, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dumai dinonaktifkan.
Dari inspeksi awal Dinas Kesehatan, dapur SPPG ditemukan dalam keadaan basah dan belum memiliki pengontrol suhu panas yang memadai.
Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Kampar pada pertengahan Agustus 2026. Murid SDN 008 Rimba Beringin dan SMKN 1 Tapung Hulu, Kecamatan Tapung Hulu menjadi korban.
?Jumlah korban mencapai puluhan pelajar dari tingkat SD hingga SMK. Sekitar 40 siswa dilaporkan harus menjalani perawatan lantaran mengalami keluhan mual hingga muntah pasca-menyantap porsi MBG.
Para korban dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat, termasuk Puskesmas Tapung, Puskesmas Tapung Hulu, dan Klinik PTPN 4 di Tandun.
Menanggapi itu, anggota DPRD Pekanbaru Fraksi PDI Perjuangan Zulkardi meminta seluruh dapur MBG memastikan kualitas makanan sebelum didistribusikan. Ia mengingatkan kejadian serupa jangan terjadi di Kota Pekanbaru.
"Kita mengimbau pemilik dapur MBG bisa mengawasi kualitas makanan dan kualitas gizinya sehingga tidak mengakibatkan anak-anak SD, SMP tidak keracunan," kata Zulkardi, Kamis (10/9/2026).
Ia menilai, saat ini pengawasan dari Badan Gizi Nasional (BGN) masih lemah. Kata Zulkardi, BGN harus melakukan evaluasi terhadap dapur-dapur MBG.
"Hari ini lemahnya pengawasan dari BGN untuk melihat dan mengevaluasi dapur-dapur MBG. Karena saya lihat hari ini membiarkan. Misalnya ada contohnya ada makanan tidak sesuai gizinya. Banyak kita dapatkan," jelasnya.
Ia juga menekankan agar pemilik dapur MBG agar mengontrol dapur, agar kejadian serupa tidak terjadi. "Selain dari itu, kurangnya pemilik dapur untuk turun langsung ke dapur dan melihat kebersihan dari yang ingin dimasak," jelasnya.
