KKK Pekanbaru dan KKK Pelalawan Wisata Sejarah ke Istana Matahari Timur

KKK Pekanbaru dan KKK Pelalawan Wisata Sejarah ke Istana Matahari  Timur
Ketua KKK Riau, Dandim 0322 Siak dan perwakilan KKK Pekanbaru dan Pelalawan foto bersama di depan Istana Siak.

SIAK -- CUACA sore pukul 15.00 WIB  Ahad (23/6/2024) sore sangat cerah. Angin berhembus semilir  menemani aliran air sungai Siak yang kerap disebut Sungai Jantan.

Usai silaturahmi di kediaman rumah dinas Dandim 0322 Siak Sri Indraputra rombongan KKK Pekanbaru  yang menggunakan bus pariwisata  KKK Pelalawan dikawal Vorijder Provost Kodim 0322 Siak menuju Istana Siak.

Inilah secuil cerita tentang perjalanan rombongan KKK Riau yang diketua H Syawaluddin Hasibuan singgah dan melihat dari dekat salahsatu destinasi tersohor di kabupaten yang memiliki julukan Negeri Istana .

Istana Asherayah Al Kasimiyah, bukti kejayaan kerajaan Melayu yang dibangun pada abad 16 masih berdiri kokoh. Saat ini di Kabupaten  Siak merupakan destinasi yang paling menarik dan harus dikunjungi.

Letaknya sangat strategis, sekitar 2,5 jam dari Kota Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau.Kota ini juga terkenal dengan sport tourismnya" Tour de Siak".

Sejarah istana ini sendiri bermula dari keinginan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin membangun istana baru pasca-naik takhta sekitar tahun 1889.Desain arsitektur istana dipercayakan kepada arsitek asal Jerman bernama Vande Morte

So, tidaklah mengherankan bila desain istana ini merupakan perpaduan gaya rancang bangun Eropa, Timur Tengah, dan Melayu.

"Alhamdulillah,  kami bersama rombongan bisa sampai disini dan melihat dari dekat Istana yang megah ini. Dan terasa istimewa, kita juga langsung didampingi bapak Dandim 0322 Riyanto Budi Nugroho dan istri selaku tuan rumah, " kata Ketua DPW KKK Provinsi Riau, H Syawaluddin Hasibuan.

Dalampada itu Letkol Arh Riyanto Budi Nugroho menyebutkan kawasan ini merupakan salah satu destinasi yang patut dikunjungi. Karena berisikan ilmu pengetahuan dan sejarah. "Mudah-mudahan kunjungan ini menjadi manfaat dan perekat jalinan silaturahmi warga perantauan KKK di Provinsi Riau, " katanya.

" Jadi mari kita nikmati keindahan istana ini dan silahkan berswafoto agar menjadi kenangan indah berharga. Berwisata sambil belajar sejarah, " ucapnya.

Ya, Istana megah ini dikenal pula dengan nama Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur. Kesultanan Siak Sri Indrapura ini merupakan Kerajaan Islam-Melayu terbesar di Riau pada abad ke-16 silam. Istana ini adalah kediaman resmi Sultan Siak, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim, tahun 1889.

Pada kesempatan itu  rombongan melakukan foto disetiap sudut Istana yang bernuansa eropa. Terlihat pada penggunaan jendela raksasa, kaca mozaik, dan langit-langit setinggi enam meter. Sementara gaya Timur Tengah digunakan pada fasad dan rupa bangunan yang menyerupai benteng abad pertengahan. Dan, pada puncak istana juga  terdapat enam patung burung elang yang melambangkan keberanian Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Sejatinya istana ini terbagi atas enam ruang utama dengan jumlah koleksi mencapai 2.500 benda. Ruang Adat merupakan bagian pembuka yang memamerkan diorama pertemuan adat yang kerap dilakukan sultan.

Melangkah ke ruang selanjutnya, ada Ruang Gading, yang menyimpan berbagai peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang didatangkan langsung dari sejumlah negara. Sendok makan misalnya, diimpor dari Jerman, sedangkan piring dikirim dari Perancis.

Marmer yang digunakan pada lantai istana berasal dari China, sedangkan keramik yang ditempelkan di dinding didatangkan dari Swiss.

Dari Ruang Gading, pengunjung dituntun memasuki Ruang Kristal, yang dirancang mewah dan klasik. Ruang yang didominasi warna putih itu memiliki meja sepanjang dua meter dengan 12 kursi berwarna pastel yang kerap digunakan permaisuri untuk menjamu para tamu kerajaan. Penggunaan lampu kristal, guci antik asal China, serta 10 cermin raksasa pada Ruang Kristal memperkuat kesan mewah pada keseluruhan tampilan.

Berdampingan dengan meja jamuan, dipajang patung Ratu Wilhelmina asal Belanda yang merupakan kenang-kenangan Sang Ratu untuk Sultan Syarif Kasim II.

Konon ceritanya, itu merupakan perwujudan kisah kasih tak sampai antardua pemimpin kerajaan. Antara Sultan Syarif Kasim II yang rupawan dengan Ratu Wilhelmina.

Penampilan fisik itulah yang memikat hati Ratu Wilhelmina. Sayangnya, perjalanan cinta keduanya harus kandas karena perbedaan keyakinan. Agar dapat saling mengenang, keduanya sepakat untuk saling bertukar patung diri.

Masih di Ruang Kristal, tepatnya di sudut kiri ruangan, dipajang cermin antik berbahan kristal dengan ukuran panjang 40 sentimeter dan lebar 30 sentimeter. Cermin tersebut merupakan hadiah Sultan Syarif Kasim II untuk sang permaisuri. Konon, siapa saja yang becermin di cermin kristal ini dipercaya akan awet muda.

Dari Ruang Kristal, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Ruang Menginap di lantai dua. Untuk menuju ruang ini, pengunjung harus melewati tangga melingkar berwarna kuning menyala setinggi enam meter dengan lebar 80 sentimeter. Tangga ini didatangkan khusus dari Belanda.

Ruang Menginap membentuk lorong dengan empat bilik utama di kedua sisinya, serta ruang pamer di ujung koridor yang menghadap balkon. Keempat kamar berbahan kayu giam itu dibiarkan tanpa perabotan dan kini difungsikan sebagai ruang pamer yang memajang berbagai koleksi pribadi sultan dan keluarga.

Di sana dipajang berbagai foto keluarga kerajaan, foto kegiatan kenegaraan, pedang kerajaan, pakaian dan sepatu permaisuri, rompi yang pernah dikenakan Sultan Siak IX saat masih bayi, peralatan memasak, lonceng penentu waktu, dan foto-foto Ratu Wilhelmina.

Tur di istana ini dapat dilanjutkan ke Ruang Tamu Sultan di lantai satu yang berdampingan dengan Ruang Kristal. Namun, sebelum itu, pengunjung dapat melihat sebuah brankas tua berbahan baja produksi Jerman yang ditempatkan persis di bawah tangga. Berbagai cara dilakukan untuk mengetahui isi brankas setinggi dua meter dan lebar satu meter itu.

Pernah coba dibor tetapi mata bor malah patah. Mendatangkan orang pintar dari Banten juga sia-sia. Terakhir, sejumlah ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mencoba untuk memindai brankas ini menggunakan pencitraan digital yang mampu menangkap gambar hingga kedalaman dua meter.Tapi semua  usaha itu juga sia-sia.

Ruang Tamu Sultan memajang sebuah meja jati dengan panjang tujuh meter dan lebar 1,5 meter. Meja yang memiliki tuas untuk mengatur ukurannya itu, merupakan produksi lokal yang dirancang oleh desainer lokal pula. Sebagai pelengkap, tersedia 14 kursi mengitari meja, lampu kristal, dan singgasana sultan bersepuh emas 24 karat yang dipamerkan dalam sebuah lemari kaca transparan.

Gromofon ini disimpan dalam sebuah lemari jati setinggi tiga meter dan lebar satu meter yang terbagi atas dua bagian. Di sisi atas tersimpan fonograf berbahan baja, sedangkan pada bagian bawah diletakkan piringan musik berpelat tembaga. Konon, gromofon merek Komet ini hanya tersisa dua di dunia.

Selain yang ada di Istana Siak, gromofon Komet lainnya terdapat di Jerman. Namun, tidak seperti di Siak, gromofon Komet yang ada di Jerman sudah tidak berfungsi.

Usia gramofon ini sudah 132 tahun.Dari gramofon ini musik- musik klasik yang didendangkan. Seperti Beethoven, Strauss, dan Mozart . Cuma saat ini hanya  didendangkan saat ada kunjungan tamu penting.

Lepas menyusuri tiap-tiap ruang, pengunjung dapat melongok ke halaman istana. Di sisi kanan, sedikit menjorok ke belakang istana, terdapat Kapal Kato. Kapal ini kerap digunakan sultan dalam lawatannya ke luar negeri. Kapal produksi Belanda yang digerakkan tenaga batu bara tersebut terdiri atas dua tingkat. Panjangnya 20 meter, lebar tiga meter, dengan berat mencapai 15 ton.

Berhadapan dengan Kapal Kato, terdapat rumah dinas pejabat kesultanan yang mengusung rumah  panggung khas Melayu. Rumah itu sebenarnya sempat hancur pada tahun 1946 tetapi dibangun kembali menyerupai aslinya pada sekitar tahun 1978.

Sementara di halaman belakang istana terdapat Sumur Larangan. Dahulu, sumur ini kerap digunakan sultan untuk mandi dan mengambil wudu.

Percaya tidak percaya, sumur ini kerap digunakan masyarakat  untuk menyembuhkan penyakit. Biasanya orang yang terkena penyakit akan dimandikan menggunakan air dari sumur ini.(***/CR1) 

Berita Lainnya

Index