celotehriau.com — Nilai tukar rupiah melemah tipis pada awal perdagangan hari ini, dipicu oleh tarif impor Donald Trump dan data inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar.
Kurs rupiah dibuka di Rp 16.270 per dolar AS, melemah 3 poin atau 0,02% dari posisi sebelumnya di Rp 16.267.
Menurut pengamat pasar uang Ariston Tjendra, penguatan dolar AS dipicu oleh data inflasi konsumen (CPI) AS yang naik menjadi 2,7% yoy, dari sebelumnya 2,6%. Angka ini melebihi ekspektasi pasar yang memperkirakan hanya 2,4%.
“Kenaikan inflasi ini bisa membuat The Fed menunda penurunan suku bunga,” kata Ariston dilansir dari Antara, Rabu (16/7/2025).
Inflasi inti AS juga tercatat naik ke 2,9% yoy, menandakan tekanan harga masih tinggi di sektor-sektor utama. Kenaikan inflasi di AS disebut turut dipengaruhi oleh kenaikan tarif impor sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat.
Trump mengumumkan bahwa AS kini akan menurunkan tarif impor produk Indonesia menjadi 19%, dari sebelumnya 32%. Ini disepakati dalam negosiasi bilateral dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun, Ariston mencatat bahwa meskipun ada penurunan tarif, besaran 19% masih relatif tinggi, sehingga tetap menjadi tekanan bagi ekspor Indonesia. “Rupiah bisa saja menguat dalam jangka pendek, tapi masih akan bergerak dalam kisaran Rp 16.200–Rp 16.300 per dolar AS,” ujarnya.