CELOTEHRIAU - - Presiden Real Madrid Florentino Perez dikabarkan tengah mempertimbangkan kemungkinan memulangkan Jose Mourinho ke Santiago Bernabeu.
Informasi tersebut diungkapkan oleh saluran televisi Spanyol Cope, yang menyebut Mourinho sebagai sosok pelatih yang paling memuaskan Perez sepanjang masa kepemimpinannya.
Kabar ini disampaikan jurnalis senior Alfredo Relano dalam program El Partidazo de Cope. Menurut Relano, Mourinho saat ini tengah menghadapi tekanan besar di Benfica dan berisiko dipecat, membuka peluang bagi Real Madrid untuk kembali mendekatinya.
Relano menegaskan bahwa Mourinho merupakan satu-satunya pelatih yang benar-benar membuat Florentino Perez puas, baik dari segi prestasi maupun hubungan personal. Pelatih asal Portugal itu pernah menangani Real Madrid pada periode 2010–2013.
Selama masa kepemimpinannya, Mourinho mempersembahkan satu gelar La Liga, satu Copa del Rey, dan satu Piala Super Spanyol. Catatan kemenangannya mencapai 71,9%, tertinggi ketiga dalam sejarah Real Madrid setelah Manuel Pellegrini (75%) dan Carlo Ancelotti (74,8%).
Saat ini Mourinho melatih Benfica, tetapi kiprahnya jauh dari kata sukses. Tim asuhannya telah tersingkir dari Piala Portugal dan Piala Liga, berada di peringkat ketiga Liga Portugal, serta terdampar di posisi ke-25 klasemen Liga Champions, kompetisi yang hanya meloloskan 16 tim ke fase gugur.
Dengan kondisi tersebut, Mourinho hampir dipastikan mengakhiri musim tanpa trofi meskipun kompetisi baru memasuki paruh jalan.
Menurut Relano, keputusan Perez untuk memecat Xabi Alonso dipicu oleh kekecewaan mendalam setelah Real Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di Piala Super Spanyol.
"Waktu pemecatan itu juga logis, karena jika tim memenangkan trofi, mengganti pelatih akan menjadi jauh lebih rumit," ujar Relano.
Konflik antara Alonso dan Perez bermula dari perbedaan pandangan mengenai Piala Dunia Antarklub FIFA, turnamen yang menjadi bagian penting dari strategi pencitraan Perez. Penolakan awal Alonso untuk memimpin tim, ditambah kekalahan telak 0-4 dari PSG di semifinal, semakin merusak posisinya.
Media Spanyol menyoroti adanya paradoks dalam pendekatan Perez. Ia tidak menyukai pelatih yang terlalu lunak terhadap pemain, seperti Vicente del Bosque, Zinedine Zidane, atau Carlo Ancelotti. Namun, ketika menunjuk pelatih yang lebih tegas dan sistematis, Perez justru kerap berpihak kepada pemain, yang akhirnya melemahkan posisi staf pelatih.
Cope juga melaporkan bahwa skuad Real Madrid saat ini dinilai tidak seimbang. Meski memiliki sejumlah pemain bintang, kedalaman tim dianggap belum memadai. Lini pertahanan rapuh, sering dilanda cedera, dan banyak pemain mengalami masalah kebugaran jangka panjang.
Di lini tengah, rencana membangun tim yang kuat secara fisik dinilai tidak akan efektif jika lini serang tidak aktif membantu pertahanan.
Terkait pelatih sementara, Relano mengungkapkan keraguannya terhadap Alvaro Arbeloa. Ia menilai mantan bek berusia 42 tahun itu tidak memiliki karisma dan daya inspirasi seperti Zidane di masa lalu.
Keraguan tersebut semakin menguat setelah Real Madrid tersingkir dari babak 16 besar Copa del Rey oleh tim divisi dua, Albacete. Arbeloa tetap memuji Vinicius Junior, meskipun sang pemain tidak mencetak gol, tidak memberikan assist, dan kehilangan bola lebih dari 20 kali.
Vinicius sendiri dikenal sebagai pemain yang kerap berselisih dengan pendekatan disiplin Alonso dan bahkan sempat bereaksi negatif saat digantikan.