PEKANBARU - Grand Final Pemilihan Koko Cici Riau 2026 digelar secara meriah di Living World Pekanbaru, Ahad (25/1/2026).
Mengusung tema "The Spirit of Heritage The Voice of A New Genation", ajang ini bukan hanya menjadi panggung pencarian duta muda Tionghoa Riau, tetapi juga mencatat sejarah baru dengan pelaksanaan terbuka untuk publik dan disaksikan pengunjung pusat perbelanjaan.
Pelaksana Tugas Ketua Ikatan Koko Cici (IKOCI) Riau 2026, Nicholas Alexander, menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai momentum bersejarah bagi perjalanan Koko Cici di Riau.
"Kita cetak sejarah di Pemilihan Koko Cici Riau 2026. Biasanya pemilihan diselenggarakan di ruangan tertutup, tapi hari ini kita lakukan terbuka di Living World Pekanbaru. Ini pemilihan Koko Cici paling besar dan paling ramai," ujar Nicholas.
Ia menegaskan, ajang ini telah melahirkan keluarga besar baru Koko Cici Riau dengan 25 finalis terbaik yang dinilai luar biasa dari berbagai aspek.
"Mulai hari ini kita punya keluarga baru, 25 finalis yang luar biasa. Ke depan, IKOCI Riau akan melakukan pemekaran ke daerah-daerah, agar Koko Cici semakin luas dan besar," Cakapnya.
Sementara itu, Yansen, perwakilan IKOCI Indonesia, menyampaikan apresiasi atas kerja keras panitia dan seluruh pihak yang terlibat.
Ia menilai Pemilihan Koko Cici Riau 2026 sebagai salah satu yang paling membanggakan sepanjang sejarah penyelenggaraan.
"Tahun-tahun sebelumnya sudah baik, tapi 2026 ini adalah puncak yang sangat membanggakan. Tema yang diusung berjalan dengan sangat baik hingga hari ini," ujarnya.
Sebagai alumni Koko Cici, Yansen mengakui perjalanan menuju grand final bukanlah proses yang mudah.
Ia juga mengulas sejarah panjang Koko Cici yang telah hadir sejak 24 tahun lalu, tepatnya di tahun 2002 dan sejak 2016 rutin menggelar ajang nasional.
Ia menambahkan, Riau tercatat sebagai daerah dengan prestasi gemilang di tingkat nasional, salah satunya saat Nicholas meraih prestasi tertinggi.
“Finalis terpilih nantinya akan mewakili Riau di ajang Koko Cici Indonesia 2026. Gunakan masa jabatan ini untuk memupuk pengalaman dan membangun peran positif,” pesannya.
Dukungan penuh juga disampaikan Ketua PSMTI Riau terpilih, Lindawati. Ia menegaskan bahwa Pemilihan Koko Cici bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan proses pembinaan karakter generasi muda Tionghoa.
“Pemilihan Koko dan Cici adalah proses pembinaan generasi muda agar berkarakter kuat, berintegritas, berbudaya, serta menjadi duta persatuan, toleransi, dan kebhinekaan,” tuturnya.
Lindawati menekankan bahwa apa pun hasil yang diraih, seluruh finalis adalah putra-putri terbaik Riau.
“Jadilah generasi muda yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga rendah hati, peduli sosial, dan mampu membawa nama baik keluarga, organisasi, serta daerah,” katanya.
Senada dengan itu, Sekretaris Umum PSMTI Pusat, Peng Suyoto, mengajak para finalis untuk menjadikan ajang ini sebagai wadah pembentukan jati diri dan pengalaman.
“Tidak semua akan menang, tapi yang terpilih akan membawa nama baik Riau ke tingkat nasional. Bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati, karena akan terus dibimbing,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah, dukungan disampaikan oleh Alfiandri yang mewakili Dinas Pariwisata Riau. Ia menilai keberagaman yang ditampilkan dalam Pemilihan Koko Cici merupakan kekuatan besar bagi pariwisata Riau.
“Kita hidup dalam masyarakat yang heterogen, dan ini adalah kekuatan. Bersama-sama kita bisa meningkatkan pariwisata Riau, agar orang datang, berkunjung, dan membelanjakan uangnya di Riau,” ujarnya.
Ia juga menyebut berbagai potensi wisata unggulan Riau, seperti Bakar Tongkang dan Perang Air di Meranti, yang bisa dipromosikan melalui peran Koko Cici sebagai duta budaya dan pariwisata.