Bekas Satelit Rusia dan Roket China Tabrakan Pagi Ini

Jumat, 16 Oktober 2020 - 07:53:28 WIB Cetak

CELOTEH RIAU--Sampah-sampah luar angkasa dilaporkan akan saling bertabrakan dan mendekati bumi pada Jumat (16/10). Fenomena itu akan pertemuan itu akan berlangsung 616 mil (991 kilometer) di atas Samudera Atlantik Selatan yang berlokasi tak jauh dari pantai Antartika.

Perusahaan pelacakan yang berbasis di Amerika Serikat, LeoLabs mengatakan perhitungan terbaru menunjukkan probabilitas tabrakan lebih dari 10 persen. Kejadian diprediksi pukul 00.56 GMT atau 7.56 WIB.

Melansir Space, probabilitas 10 persen merupakan angka yang termasuk tinggi mengingat massa gabungan benda-benda itu sekira 6.170 Ibs (2.800 kilogram) dan mereka akan meluncur dengan kecepatan relatif 32.900 mph (52.950 km per jam).

"Peristiwa ini terus berisiko sangat tinggi dan kemungkinan akan tetap seperti ini selama waktu pendekatan terjadi," tulis LeoLabs lewat akun twitter.

Astronom dan pelacak satelit, Jonathan McDowell mengidentifikasi dua objek yang saling bertabrakan merupakan Satelit Navigasi Soviet yang telah mati dan dikenal sebagai Parus atau Kosmos 2004 dan roket Stage milik China.

Pada Februari 2009, satelit komunikasi operasional Iridium 33 bertabrakan dengan satelit militer Rusia Kosmos 2251 yang telah mati. Tabrakan itu menghasilkan 1.800 keping puing yang dapat dilacak

Pada 2007 dan 2009, uji antisatelit China dan India juga memunculkan awan puing besar dan meningkatkan ancaman bagi penerbangan luar angkasa.

Melansir Live Science, sampah luar angkasa dari bumi terus bertambah pasca peluncuran Sputnik 1, satelit buatan pertama yang diorbitkan pada Oktober 1957.

Laporan tahunan dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menyebut semakin banyak objek mati yang memenuhi ruang di dekat Bumi dan meningkatkan risiko tabrakan satu sama lain. Ketika satelit ini saling bertabrakan, mereka akan jatuh dan pecah, menghasilkan lebih banyak lagi puing-puing ruang angkasa.

Kendati demikian, ESA melaporkan tabrakan tersebut tidak menjadi masalah besar. Dalam 10 tahun terakhir, tabrakan hanya menyebabkan 0,83 persen dari semua peristiwa fragmentasi.

"Penyumbang terbesar masalah puing-puing luar angkasa saat ini adalah ledakan di orbit, yang disebabkan oleh sisa energi bahan bakar dan baterai pesawat ruang angkasa dan roket," kata Holger Krag, Kepala Program Keamanan Luar Angkasa ESA.

Saat ini ESA secara aktif bekerja mengatasi sampah luar angkasa ini. Mereka telah menugaskan proyek untuk mencoba mengumpulkan puing-puing ruang angkasa, dengan bukti konsep yang akan diluncurkan pada 2025.

Mereka juga mencoba mengembangkan teknologi untuk mengotomatiskan manuver penghindaran tabrakan, sehingga manusia tidak perlu melacak dan mengontrol setiap peralatan atau satelit yang dinonaktifkan di ruang rendah Bumi.

"Puing-puing ruang angkasa menimbulkan masalah bagi lingkungan dekat Bumi dalam skala global, yang telah disumbangkan oleh semua negara penjelajah ruang angkasa," tulis ESA.



Baca Juga Topik #internasional+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+
Internasional

PWI Riau Studi Jurnalistik ke Kantor VJA di Ho Chi Minh City

Kamis, 19 September 2019
Internasional

Astronot Malaysia Bersumpah Katakan Bumi itu Bulat

Selasa, 15 Oktober 2019