Mutiara Terpendam, Pembangkit Batang Terendam Sepakbola Riau

Ahad, 07 Juli 2019 - 11:44:33 WIB Cetak

Bang Yuki

CELOTEHRIAU.COM- Sebutir mutiara walaupun terbenam didasar lautan yang dalam dia tetap akan menjadi mutiara.

Dimana pun berada mutiara selalu memberi warna.Dia selelu menjadi pembeda.Karena ialah, pembangkit batang yang terendam kepermukaan.

Begitu membaca Surat Pemanggilan Tim Pelajar U-16 Indonesia bagi Muhammad  Alif Saviola, mata ini menatap tujuan dari surat tersebut, yakni Kepada Yth. Koordinator Provinsi Riau.

Hati ini langsung saja berseru syukur. "Alhamdulillah, seluruh jerih payahmu untuk membangkitkan sepak bola di Riau telah mulai berbuah, sahabat!"Disini Mimpi Bermula!

Terkenang akan impian yang didengungkannya sejak mulai mengelola kompetisi sepak bola usia muda saat masih bertajuk Liga Pelajar Piala Menpora hingga saat ini disebut Liga Berjenjang, di Riau.

"Dalam iven ini saya hanya menginginkan lahir talenta sepak bola asal Riau yang layak mengenakan kostum timnas, hanya itu," tegasnya ketika mempresentasikan Liga Pelajar U-16 tahun 2016 lalu.

Pada awalnya, saya berpikir ucapan wartawan yang cukup senior tersebut hanyalah sekedar bumbu penyedap pergaulan insan sepak bola di Riau, agar memberikan kesan positif dan memiliki visi idealisme.

Untuk urusan eksistensi memang sudah tak diragukan lagi, kemampuan jurnalistiknya jauh di atas rata-rata wartawan di Riau, apalagi dalam hal jaringan.

Saya memanggilnya 'Bang Yuki', demikianlah sapaan akrabnya bagi rekan-rekan sesama jurnalis, terlebih setelah yang bersangkutan sempat berkibar melalui media online pribadinya yang diberi nama BangYuki.Com.

Pribadi yang sederhana, apa adanya meski terkadang bahasanya terasa begitu pedas dan sering menusuk hati, tapi harus disadari sesungguhnya yang disampaikannya tersebut adalah kebenaran, meski ego ini selalu membuatnya seakan terlalu sempit untuk dipahami.

Ada sepenggal kalimat yang sering kali dilontarkannya kepada kawan-kawannya seprofesi, "Kalau mau hidup kaya raya, ndak usah jadi wartawan, jadi pengusaha saja. Jangan gadaikan profesimu untuk segepok uang, tak kan berkah di hadapan Allah!"

Ya, aktifitas baru Bang Yuki di bidang sepak bola usia dini dan muda ini, ada hubungan dengan latar belakang profesinya sebagai wartawan olah raga pada sebuah media olah raga nasional, tabloid BOLA.

Hari demi hari, bulan dan tahun berganti, ternyata dirinya memiliki hubungan yang sangat emosional dengan sejumlah tokoh, figur dan penggiat sepak bola nasional, tidak mungkin jika hubungan tersebut hanya sebatas hubungan profesional jurnalistik.

"Dulu kami sama-sama pernah di Bandung, membentuk Liga Sepakbola Mahasiswa Jawa Barat, saya juga salah satu pendirinya," jawaban Bang Yuki ketika menanggapi kedekatannya dengan seorang pengurus PSSI Pusat, ini sontak membuat saya kaget.

Kenapa? Sejak mengenalnya tahun 2004, tak sekalipun melihatnya beraktifitas di lingkungan pembina, penggiat maupun penggerak sepakbola di semua lini kelompok usia. Barulah pada tahun 2015, Bang Yuki akan menggelar kompetisi usia dini, namun batal dilaksanakan.

Bahkan, ketika dirinya menjadi Sekretaris Tim Divisi Utama Persisko Tanjabbar klub asal Jambi, musim kompetisi tahun 2013 sama sekali tak terdengar kiprahnya di Riau. Diam-diam, namun klub milik politisi asal Bangko tersebut sempat eksis menjadi juara paruh musim di tangannya.

"Ngapain pula harus ribut-ribut di Riau, ilmu manajemen sepak bola saya ini belum dibutuhkan di Riau, nanti akan datang waktunya, kalaupun tidak berarti belum jodoh," jawabnya singkat.

Memang benar, memasuki tahun 2016 Yuki Chandra demikian lengkapnya memulai kiprahnya di Riau, ketika mendapat amanah menggelar Liga Pelajar U-16 pada tahun 2016.

"Namanya juga masih pemula, tentu kawan-kawan masih liat-liat dulu, siapa sih si Yuki ini, namun demikian kita bersyukur bisa mengirimkan Juara Riau ke Seri Nasional," kata Bang Yuki ketika itu.

Pasca menggelar iven tersebut, dirinya mulai membaur dengan para penggiat sepak bola usia dini dan muda di Pekanbaru. Kemampuannya dalam membangun komunikasi membuatnya tak sulit untuk membaur.

Hari-harinya disibukkan berbaur sembari meminta masukan dan kritikan dari pelatih, tak ada sungkan sama sekali untuk meminta maaf jika ada hal yang kurang berkenan di hati para pelatih dalam iven yang digelarnya tersebut.

"Yang tahu kebutuhan tim adalah kawan-kawan pembina dan pelatih, saya hanya berusaha untuk menerapkan regulasi semaksimal mungkin, karena itu saya harus terus membangun komunikasi positif, karena saya harus menyadari bahwa saya orang baru di lingkungan ini," akunya.

Sama sekali tak terlihat jika sesungguhnya pribadi ini memiliki segudang pengalaman dan kiprah yang sangat luar biasa di bidang sepak bola dan saya menilai jika kehadiran Bang Yuki adalah modal besar bagi Riau, sayang sekali jika tidak kemampuannya tersebut dibiarkan saja.

"Tak perlu promo lah, di Riau ini orang tahu saya hanya wartawan, itu sudah cukup bagi saya. Lebih baik begitu, makanya saya lebih suka berlaku seperti ini saja," katanya dingin.

Dalam pelaksanaan Liga Pelajar U-16 2017, Bang Yuki mulai memperlihatkan jati dirinya yang sesungguhnya,pribadi yang tegas dan taat regulasi, tak peduli berhadapan dengan siapapun. Namun sangat menghargai dan menyayangi para pemain muda.

Pada Seri Provinsi 2017 tersebut, ada satu tim yang ketahuan tidak melalui proses seleksi di tingkat regionnya, langsung di coret tanpa basa-basi, namun anak-anak yang sudah terlanjur bermain tetap dipersilahkannya.

"Mereka ini korban kebobrokan moral pembinanya, sikap seperti ini musuh besar sepak bola, jangan permainkan apalagi mengorbankan harapan dan impian mereka," katanya tegas.

Sikap ini justru semakin menambah simpati dan kepercayaan para penggiat dan pembina sepak bola usia muda dan dini di Riau, karena ada kepastian penerapan regulasi sehingga tak merugikan para peserta maupun pemain.

"Sebenarnya dalam penyelenggaraan kompetisi usia dini di Riau ini, masih banyak hal yang perlu dibenahi tidak hanya pelatih dan pembina, para orangtua pemain pun seharusnya perlu diberi pembekalan oleh pembina SSb atau klub." katanya.

Seperti apa? "Mulai dari perilaku para orangtua ketika menonton anak-anak mereka bermain, teriakan, histeria, umpatan bahkan cacian terucap begitu saja, ini sangat tak mendidik bagi anak-anak. Sesungguhnya masih banyak lagi, kita harus bersama-sama," jawabnya.

Lalu, bagaimana dengan impiannya? Inilah sepenggal perjalanan seorang wartawan yang ternyata memiliki segudang ilmu manajerial sepak bola, namun tak pernah muncul namanya baik itu di PSPS Riau, ataupun di PSSI.

"Enak begini, awak tak sibuk. Sepak bola itu olah raga rakyat, rakyat hanya butuh karya kita, bukan perdebatan tak berguna. Dan yang pasti tempat untuk mengabdi dan berkarya kan tidak hanya itu saja," ungkapnya.

Sore tadi saya kembali sempat bertemu dengan Bang Yuki, ada perubahan yang begitu besar dari tatap matanya. "Alhamdulillah Dek, ternyata Allah mendengar doa kita semua. Hari ini anak Duri masuk Timnas, saya berharap besok masih banyak lagi yang menyusul," ucapnya tersenyum.

Akhirnya,b bahwa kesungguhan, kerja keras, dedikasi, cinta, rendah hati, kosistensi, totalitas, ketulusan dan do'a, adalah modal utama untuk mewujudkan impian.

Penulis hanya bisa berharap, peran orang-orang seperti Bang Yuki ini benar-benar dioptimalkan penggiat sepak bola usia dini dan muda di Riau. Ilmunya banyak dan rendah hati,dan semuanya gratis jika benar-benar untuk membangun sepak bola Riau.



Baca Juga Topik #serba serbi+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+