Gelar Resepsi Milad 108, PW Muhammadiyah Riau Hadirkan Din Syamsuddin

Rabu, 25 November 2020 - 00:14:20 WIB Cetak

PEKANBARU - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau menggelar resepsi Milad 108 Muhammadiyah. Kegiatan dipusatkan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Riau Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 88 Pekanbaru dengan menghadirkan penceramah Prof Dr HM Din Syamsuddin MA yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2005-2015.

Dengan menerapkan standar protokol kesehatan peserta offline dibatasi hanya tiga puluhan orang yang terdiri Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Pimpinan Organisasi Otonom saja. Sementara itu Pimpinan Daerah dan ratusan warga Muhammadiyah se Provinsi Riau hadir secara virtual melalui platform Zoom.

Hadir pula Pimpinan Cabang Istimewa Kuala Lumpur dan dua cabang istimewa di Singapura. Secara nasional pelaksanaan resepsi Milad 108 Muhammadiyah bertema Meneguhkan Gerakan Keagamaan Menghadapi Pandemi dan Masalah Negeri itu telah dilaksanakan pada Rabu, 18 November 2020 lalu secara virtual.

Ketua PW Muhammadiyah Riau Dr Saidul Amin MA dalam sambutannya mengatakan bahwa meneguhkan gerakan keagamaan pada hakekatnya mengajarkan keistiqomahan. Muhammadiyah untuk memahami tujuan gerakan ini didirikan yaitu untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Saidul Amin menambahkan sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah harus memahami purifikasi dan dinamisasi. Memahami mana tataran ideologis, mana tataran praktis. Sehingga ajaran Islam itu bukan saja melangit tapi juga membumi.

Kemudian Saidul Amin mengulas sikap Muhammadiyah terkait persoalan dalam menghadapi pandemi. Ia menguraikan Muhammadiyah harus menggabungkan kekuatan akal dan kemutlakan wahyu. "Dengan akal para ilmuwan Muhammadiyah harus berupaya menemukan obat, vaksin dan berbagai upaya untuk segera keluar dari pandemi yang tidak tahu kapan berakhirnya. Juga tidak melupakan wahyu setelah berusaha segala sesuatunya diserahkan kepada Allah SWT," katanya.

Diakhir sambutannya pria yang akrab disapa USA ini menekankan "Dalam menghadapi permasalahan negeri, Muhammadiyah berusaha menjadi bagian pemecah masalah, bukan justru menjadi bagian pembuat masalah. "Oleh sebab itu dalam menghadapi pandemi ini keluarga besar Muhammadiyah agar menjadi kelompok yang membantu pemerintah menyelesaikan masalah sebab masalah Pandemi menjadi masalah bangsa dan negara," imbuhnya.

Sementara itu Prof Dr HM Din Syamsuddin MA dalam ceramahnya mengulas lebih dalam bagaimana sikap Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi dan masalah negeri sebagaimana tema yang ditetapkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

"Sejak kelahirannya satu abad lebih yang lalu Muhammadiyah selalu menjadi problem solver, bukan problem maker atau problem shutter dengan gerakan pencerahan, dakwah pencerahan, ad dakwah at tanwiriahnya," ujar Din.

Lebih jauh Din menjelaskan bahwa sejak berdirinya Muhammadiyah menerapkan prinsip 3M. Membebaskan, memberdayakan dan memajukan. Membebaskan bangsa masyarakat khususnya umat Islam dari kemusrikan, kekafiran, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan pada waktu itu.

"Muhammadiyah tidak berhenti pada pembebasan dan kemudian diberdayakan dan memajukan. Hasilnya alhamdulillah Muhammadiyah banyak dipuji pihak luar. Disebut sebagai gerakan Islam yang paling merata pergerakannya, dari Aceh hingga Papua," sambungnya.

Din mencontohkan keberadaan Universitas Muhammadiyah Kupang di NTT dosen dan mahasiswanya enam puluh persen dosen dan mahasiswanya beragama Kristen. Di Papua ada dua sekolah tinggi Muhammadiyah. Demikian pula di Papua Barat tepatnya di Sorong, ada Universitas Muhammadiyah Sorong dan Universitas Pendidikan Muhammadiyah yang 80 persen mahasiswa anak-anak Papua beragama Kristen.

Indonesia menghadapi masalah lain yaitu resesi ekonomi sebagai dampak dari pandemi. Terjadi kontraksi ekonomi minus kalau tidak salah 5,2 persen. Dan itu artinya apa? Artinya pengangguran, artinya perusahaan-perusahaan perdagangan stagnan, berhenti. Artinya adalah kesusahan bagi rakyat.

"Saya pernah menjadi Dirjen di Departemen Tenaga Kerja. Bila kontraksi ekonomi minus nol koma lima persen, maka terjadi pengangguran lima ratus ribu. Apabila 0,5 persen dikali dua, dengan jika diukur dengan sebelumnya plus empat persen menjadi 9 persen, maka bisa mencapai 4,5 juta penganggur. Sudah banyak terjadi PHK Omnibus law yang didalihkan akan menciptakan lapangan kerja jauh panggang dari api. Ini adalah bukan realita tapi utopia," tegasnya.

"Jika bangsa umat Islam dan bangsa Indonesia menyikapinya sebagai musibah dengan pendekatan agama, maka menghadapinya dengan optimis. Harus menghadapinya juga dengan muhasabah, mawas diri, evaluasi maka Allah akan menurunkan pertolongannya," pungkasnya.



Tulis Komentar +
Berita Terkait+
Nasional

11 Proyek Strategis Senilai 135T Selesai 2020

Selasa, 08 Desember 2020