H-8 Pilkada 2020, Sepakbola dan Kepemimpinan

Selasa, 01 Desember 2020 - 16:32:47 WIB Cetak

Oleh : Yudi Waldi 

SEPAKBOLA  adalah olahraga permainan beregu yang memiliki visi dan misi jelas dalam setiap pertandingan.Setiap tim berjumlah 11 orang. Di mulai penjaga gawang dibawah mistar, pemain belakang, pemain tengah dan pemain depan.Sesuai formasi dan game model yang diinginkan sang pelatih.

Dalam menjalankan tugasnya seorang pelatih dibantu oleh asisten pelatih, asisten pelatih penjaga gawang, dokter tim, masseur dan psikolog.

Dalam permainan dilapangan sepakbola baik amatir dan profesional  dipimpin seorang kapten. Kapten tersebut memiliki tugas untuk mewakili tim  dalam memimpin dan juga mengajukan protes kepada wasit jika ada keputusan wasit yang dianggap salah. Seorang Il Capitano tentunya dipilih secara selektif oleh pelatih, manajer dan offisial.

Sebelas pemain yang menjadi starting eleven dilapangan tentunya merupakan pilihan pelatih yang ingin mencapai tujuan dalam sebuah pertandingan. 

Bukan saja soal mencetak gol dan kebobolan.Lebih dari itu dalam sepakbola  ada unsur komunikasi, keputusan, ekseskusi dan dalam tempo tinggi selama permainan. Tentunya untuk semua itu memerlukan taktik tim, taktik individu, tehnik dan fisik.

Jadi jika  seorang pelatih salah menurunkan pemain maka akibat yang akan muncul adalah tim tersebut bisa mengalami kekalahan. Demikian juga jika melakukan pergantian pemain tak sesuai kebutuhan tim  maka, strategi yang sudah dirancang secara baik menjadi berantakan karena pemain tidak dapat menjalankan instruksi pelatih.

Demikian juga dalam pemerintahan. Khususnya menjelang kontestasi politik 9 Desember mendatang di 270 daerah di Indonesia dimana didalamnya ada 9 Kabupaten/kota  di Riau.

Jika sebuah pemerintahan  diumpamakan  dipimpin seorang pelatih dalam sepakbola maka tugas para pemain yang merupakan bawahan tentu harus memiliki pemahaman dan pengertian yang jeli terhadap strategi sesuai game model  yang diinginkan oleh seorang pelatih.

Tersebab pemilihan seorang pemimpin atau pelatih tidak terlepas dari kualitas, kinerja dan juga paham tentang basic science dan basic skill dari teori leadership sesuai konsep kepemimpinan yang merakyat. 

So, gunakalah filosofi sepakbola dalam mencari seorang pemimpin yang memiliki visi dan misi untuk membawa timnya menjadi juara. Pemimpin yang  ideal, pemimpin yang dapat mengedepankan kepentingan umum atau masyarakatnya diatas kepentingan pribadi, golongan atau sanak saudaranya.

Belajarlah dari sepakbola yang merupakan permainan kolektif, kerjasama yang tepat akan memberikan hasil yang positif dalam pertandingan. Jangan lupa pula  bahwa permainan sepakbola diatur oleh waktu ada rule of the gamenya.

Dalam sebuah kepemimpinan, waktu merupakan momentun yang berharga. Jadikanlah itu sebagai sebuah komitmen yang berharga bagi siapapun yang menjadi pemenang dalam pertarungan politik bernama pilkada,  untuk berbuat yang terbaik agar memperoleh hasil yang maksimal.

Wahai para calon pemimpin, belajarlah dari sepakbola yang selalu  bicara konsep dan konteks dalam membangun sebuah tim.Yakni, Kualitas kinerja dilapanga bukan hanya diatas meja, komunikasi, keputusan dalam bermain, eksekusi dan menjaga ritme  atau dinamis tidak mengkotak-kotak kan masyarakat ketika menjadi pemenang.

Semoga pilkada serentak 2020 khususnya di 9 Kabupaten Kota  Bumi Lancang Kuning Riau melahirkan pemimpin yang hebat, amanah dan membawa rakyatnya menuju  baldatun Thoyibatun warobbun Ghofur. Semoga.**



Baca Juga Topik #politik+
Tulis Komentar +
Berita Terkait+